Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

Hanya Aku,Tuhan Dan Gunung Sumbing Kala Itu.

hanzhanz
hanzhanz, pada 13 Jan. 2013, 12.11
di Blog

G.sumbing adalah Gunung Tertinggi ke 2 di jawa tengah dan Gunung tertinggi ke 3 di Pulau jawa setelah Semeru dan Slamet. Gunung sumbing sendiri memiliki ketinggian 3371Mdpl yang berada di kab.Wonosobo Jawa tengah.
Aku berangkat dari jogja ber 4 sekitar pukul 09.00 WIB, dengan menggunakan sepeda motor kita langsung menuju Temanggung dimana teman kita juga menunggu di alun-alun Temanggung karena hanya teman kita inilah yang tau tentang Gunung Sumbing.
setelah kita bertemu di Temanggung kita pun melanjutkan perjalanan menuju desa Garung di desa inilah tempat basecamp Pendakian Gunung Sumbing, oh iya jumlah kita menjadi 10 orang ketika itu setelah bergabung dengan teman teman di Temanggung ketika kita bertemu di alun alun tadi.
Pukul 20.00 Wib kami memulai perjalanan menuju Puncak Sumbing, Awal kita disuguhi dengan Pemandangan kebun tembakau dan bau khas dari tembakau itu. setelah melakukan Perjalanan sekitar setngah jam, tiba tiba salah satu teman kita tidak mau melanjutkan perjalanan entah capek entah yang lain nya kita tidak tau alasan yang jelas ketika itu, dan akhir nya dia pun turun bersama satu teman kami lagi untuk menemani, dan akhirnya kita melanjutkan perjalanan kembali dengan 8 orang. tanda tanya pun muncul dari pikiran saya kenapa dia tak mau melanjutkan? namun positive thingking sajalah dalam hati ku berucap " ah paling capek atau sakit ".
Setelah 1 1/2 jam perjalanan akhirnya kita sampai di Pos 1 dan di sinilah kita mulai memasuki hutan dan Goodbye kebun tembakau..
kita pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah berhenti di Pos 1 untuk minum dan selonjor.hhe
dan kita pun disuguhi track yang luar biasa, track yang cuma melihatnya saja sudah capek. memang tracknya lurus tapi begitu menanjak . aku pun melakukan 4 jalan 5 nyender terus menerus . angin yang cukup buat rambut ini bergoyang pun selalu menyapaku terang bulan yang menyinari mengalahkan sinar senter ku ketika itu. langkah demi langkah kulalui tanpa melihat ke atas hanya melihat pijakan pijakan kaki saya waktu itu. setelah 3 jam berjalan tak terasa ternyata aku telah tertinggal jauh dari teman-teman ku hanya ada satu teman ku yang jarak nya dekat. setelah berjalan sekitar 4 jam perjalanan akhirnya aku sampai di sebuah shelter yang bernama Pestan. huah nafas panjang ku tarik dalam hati ku berkata " ternyata ada landainya juga ni gunung walau dikit " disini tak ambil banyak waktu langsung ak bikin segelas Kopi panas untuk menghangatkan Tubuh yang hampir beku karena saat itu begitu dingin ,maklumlah terang bulan.
Saat kopi telah jadi dan siap ku minum tak sadar ternyata di depan ku G.sindoro terlihat begitu Gagah nya dengan cahaya lampu dari rumah-rumah yang berada di bawah. indah sekali sungguh view ngopi terindah saya ketika itu. tak ada cafe copi manapun yang dapat menandingi kopi yang saya buat dengan view yang sangat WAW.
setelah kopi ku bersihkan dari gelasnya aku pun bersiap kembali untuk melakukan perjalanan yang jujur saya belum tau masih berapa lama dan dimana ujung dari jalan setapak ini.
setelah semua kumasukan dalam tas yang saya bawa,ku nyalakan senter ku kembali dan rasa sungkan mulai datang kembali saat ku arah kan senter ku ke arah track nya. " ya Ampun nanjak lagi nih? " tapi melihat teman-teman ku yang sudah berada di depan semangat pun mulai berpacu kembali. akhirnya langkah demi langkah kembali kulalui dengan muka yang begitu lusu.
Dan setelah menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya aku pun berhenti karena tak kuat lagi kaki ini untuk melangkah kembali. Aku pun memutuskan untuk berhenti sejenak untuk istirahat. Tak lama kaki ini terasa begitu susah untuk aku gerakan dan aku pun duduk melawan dingin yang sungguh luar biasa ku rasakan ku gunakankain sarung yang ku bawa namun rasa dingin ini tetap saja menusuk tulangku , kucoba buat api kecil untuk sekedar menghangatkan tubuh namun api tak kunjung menyala karena hembusan angin yang sangat kencang ketika itu hingga tak sadar sudah 3 korek gas yang sudah ak rusak. Namun aku tak boleh untuk seperti ini terlalu lama atau ak akan mati kedinginan. Dengan sepenuh tenaga pun kucoba untuk melangkah walau terasa sakit pada bagian lutut kaki, ku belah angin yang berhembus. Maklum karena setelah shalter Pestan sudah tidak ada lagi pohon tinggi hanya ada tubuhan yang hanya 1 meter tingginya dan saban rumput. Dengan memaksakan langkah ini akhir nya sampailah aku pada shelter Pasar Watu disini aku bertemu dengan teman-teman yang lain namun semuanya dalam keadaan tertidur. Kurebahkan tubuh ku disela sela batu yang cukup untuk mengumpat dari angin (maklum ga bawa tenda ketika itu).
Akhirnya aku memutuskan membuat api untuk menghangatkan tubuh dan dengan susah nya membuat api akhirnya api pun menyala dan cukup untuk menghangatkan tubuh ini. Setelah aku asik bermain dengan api tak sadar langit berubah menjadi orange dan mentari mulai memunculkan kegagahan nya garis orange yang membatasi langit malam dan siang begitu terbentang tanpa batas. Ku merenung ku nikmati bagian demi bagian matahari yang muncul begitu indaah gumpalan awan yang luas pun terlihat menyelimuti gunung sindoro yang gagah berdiri di sebrang sana seakan gunung sindoro sedang menemaniku memandang indah nya sunrice ini.
Tak lama teman-teman yang lain pun terbangun dari tidurnya untuk menemaniku dan merapatkan tubuhnya di api yang aku buat, setelah asyik menikmati sunrise kamipun berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Mula mula kita bersama sama jalan namun semakin ke atas kita berpisah dan aku pun yang terbelakang karna sakit kaki ku masih cukup terasa akan tetapi kita bertemu kembali di shelter bernama Watu Kotak dimana disini terdapat tebing yang menjulang ke atas dan berbentuk kotak disin kami membuat mie instan dan kopi untuk sarapan sungguh nikmat ketika itu.
Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan setelah selesai menyantap sarapan kami. Dan seperti biasa kita berpisah antara depan dan belakang dan lagi lagi aku pun berada di barisan paling belakang. Tiba tiba mataku terasa sungguh berat dan kepala ini begitu berat beberapa kali aku menguap karena begitu ngantu yang ak rasakan dan aku memutuskan untuk tidur sejenak namun yang lain sudah jauh menuju puncak.
Aku pun terbangun dari tidurku walau hanya sebentar namun begitu terasa. Kurang lebih satu jam ku memejamkan mata dan akhirnya ka melanjutkan jalanku teranyata banyak pendaki pendaki lain yang sedang berada di Sumbing setelah ku bertanya ternyata mereka adalah orang kampung sekitaran Gunung Sumbing yang sedang melakukan kegiatan rutin Sapu Gunung.. akan tetapi semakin ke atas semakin sepi ku coba berteriak memanggil teman temanku namun hasilnya nihil tanpa jawaban. Kuterus menelusuri jalan setapak yang mengarah ke puncak, sesambi aku berteriak memanggil teman teman ku, dan akhirnya setelah ku berjalan dengan keadaan yang begitu lemas aku sampai di Bibir kawah . terus menerus ak berteriak memanggil teman teman ku tapi tetap saja mereka tidak menjawab. Panik yang aku rasa saat itu akan tetapi pemandangan yg ajaib menghilangkan rasa panik aku.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk turun dan berniat menunggu di watu kotak, setelah menunggu kurang lebih 1 jam aku pun belum menemukan batang hidung mereka, sesekali ku berteriak namun tetap saja tak menjawab. Rasa haus dan laparpun mulai menyapa tenggorokan dan mulutku karena aku tak membawa sedikitpun makanan. Semua makanan dibawa teman temanku, hanya sebungkus rkok dan korek yang menemaniku kala itu. Terkadang melihat orang turun dan meminta air namun mereka pun senasib denganku yang tak mempunyai air.
Karena cucaca yang begitu menjadi dingin saat ku diam aku pun memutuskan untuk berjalanan turun mencari bantuan air minum turun terus hingga sampailah di pasar watu namun tak setetes air pun aku dapat. Aku pun duduk disalah satu batu merenung berfikir dimana temantemanku berada saat ini? Apa aku hilang? Tapi aaaggh positif thingkink sajalah rasa haus,lapar dan takut saat itu apalagi saat hujan mulai turun dan petir pun mulai menjilatkan aliran listriknya ke daratan. Ak sendiri saat itu seakan ingin sekali lompot dari sini agar aku sampai di rumah lebih cepat.
2 jam sudah aku menunggu mereka namun belum meluncur juga dari puncak, rasa dingin dan gerimis menemaniku sorang diri saat itu hanya 6 batang rokok dan sebuah korek gas yang aku punya, sesekali kuminum air dari tetesan airhujan yang jatuh di selembar daun. Sesekali pun ku makan rumput yang basah. Aku pun memutuskan untuk berjalan turun tak lama terdengar suara panggilan dari atas.. merinding gembira tubuh ku mereka memanggil nama ku langkah ku pun terhenti menunggu mereka menyusul. Mereka pun datang dan tanpa banyak kata mereka memberikan air minum kepadaku mungkin kelihatan ya muka nya mereka membuatkan aku mie rebus dan kopi saat itu sungguh itu makanan ternikmat yang pernah aku makan seakan aku lupa akan rasa takut yang tadi menyelimuti ku., dan setelah semua berkemas kami pun turun bersama kembali, dan semua jalan aku pun jalan terdepan bersama salah satu teman ku. Tak sadar ternyata rombongan di belakang kami tertinggal kami pun memutuskan untuk menunggu mereka.
Sesekali aku berteriak memanggil mereka namun tak ada jawaban terus menerus aku memanggil. Akhirnya aku mendengar mereka namun arah nya tidak dari belakang akan tetapi dari samping tepatnya seberang jurang sana. Aku pun bingung bersama teman ku apa kita tersasar atau kita yang tersasar akupun bertanya kepada mereka “ ini benar tidak jalan nya ? “ dan mereka pun menjawab “ jalan saja itu jalur lama “.
Dan kami pun melanjutkan berjalan dua orang saja . jalan nya lebih landai dari pada jalur baru yang kami lewati ketika berangkat kami pun lari ketika itu karena langit sudah memasuki gelap kami tak membawa senter karena senter ditaroh di tas yang dibawa teman-teman di jalur baru. Setelah cukup lama kami berjalan ahirnya kita memasuki perkebunan tembakau aku pun memutuskan untuk berhenti istirahat di saung milik petani. Tak sadar kami ketiduran dan bangun-bangun sudah gelap, kaget dan takut bagimana kita bisa pulang jalan tak terlihat sama sekali. Selain malam kabut saat itu sangat tebal tapi aku tak menyerah dari pada aku mati kedingan mending ku melanjutkan jalan rasa takut selalu datang. Halusinasi selalu muncul melihat pohon yang seperti mengikuti mendengar suara suara yang aneh kami pun memutuskan berhenti di saung petani kembali. Aku pun sempat meneteskan air mata rasa takut ini sudah tak bisa aku tutupi kembali. Temanku pun merasakan apa yang aku rasakan.
Hanya berdoa yang bisa aku lakukan tak lama ada suara yang saat itu membuatku lega yaitu suara motor yang menuju ke arah kita. Dan ternya itu adalah teman kami yang menyusul dengan motor tanpa berfikir panjang langsung ku bonceng temanku dan turun menuju basecamp.
Sungguh ini adalah pendakian yang sampai saat ini susah buat dilupakan sesekali ku mendengar orang mengucap kata Gunung Sumbing langsung muncul pengalaman itu di otak saya. Tapi tetap tak kapok sedikitpun untuk ku mencoba kembali. 


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

teGOEH
teGOEH
teGOEH Sr.
pd. 21 Maret 2013, 15.06

Ha ha,, bener banget tuh Om..
Saya kalo nanjak Sumbing pasti startnya malam hari dari BC.
Tiap lewat pasar watu pasti ada aja pendaki2 yg tidur bergelimpangan disana hanya berselimutkan SB,ponco,terpal, bahkan ada yg cuma sarung..

Suka 0

© backpackerindonesia.com