Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

[Solo Bikepacker] Bekasi to Lombok - Agustus 2012 [PART-1]

immanuelfistek
immanuelfistek, pada 17 Maret 2013, 4.43
di Blog

Mengisi libur lebaran Agustus yang lalu saya berniat main ke Jogja dari Bekasi naik motor, istilah kerennya "Bikepacker-an". Mulai bulan Juni, saya kepikiran merombak motor Jupiter MX saya biar tanki-nya lebih besar, jadi gak capek buat ngisi bensin dijalan. Maklum, bulan itu pas Lebaran jadi macet banget pasti.

Mulailah saya browsing cara-cara modif tanki di blog, forum, kaskus sampai youtube. Hasilnya NIHIL. Ada sih cara lain dengan pakai tanki tambahan, tapi harganya mahal luar biasa (sekitar 300K/tanki (1,5L)). --a

Hampir putus asa, akhirnya saya cari bengkel modifikasi motor aja disekitaran Bekasi Selatan (biar deket rumah). Ada beberapa sih tapi pada belum pernah nyoba buat tanki tambahan. Hari Sabtu saya servis rutin seperti biasa di bengkel Yamaha, sekalian tanya bengkel modif sekitaran situ. Katanya ada bengkel modifikasi baru, sekitar 1km dari bengkel Yamaha itu. Selasai servis, saya langsung cabut ke bengkel yang dimaksud. Nama bengkelnya "Bengkel Bintang", kelihatannya memang masih baru. Setelah tanya-tanya ke montirnya, katanya baru dibuka 1 minggu yang lalu. Wahh, masih fresh banget nih, kenapa gak datang pas launching ya, kali aja bisa dapat apa gitu..hahaha.

Cukup lengkap memang servisnya, dan hampir segala merk motor diterima untuk dimodif, diservis atau sekedar pasang asseroris. Nama pemiliknya "Aa Bintang". Bintang hanyalah nama anaknya (nah loh, kok malah bahas keluarganya sih) -__-
Setelah konsultasi dengan Aa Bintang selama 30 menit tentang custom tanki saya, hasilnya adalah..
"Wahh saya belum pernah buat sebenarnya, tapi kalau dikerjain ya boleh-boleh aja.."
Jreng jrenggg..
Dalam hati, "Bahh, sarupa do hape.."
Gak nyampe 5 menit saya memutuskan (gambling sih sebenarnya)..
"Oke A' garap aja, dan tolong kapasitasnya dimaksimalkan. Ya, minimal totalnya 10L lah. Kudu nyaman juga kalau dibawa, gimana.?"
Setelah saling bertukar ide akhirnya deal. Kisaran biaya-nya sekitar 650K.

Hampir sebulan baru kelar. Secara penampilan hasilnya bagus, dan senang juga karena kapasitas tankinya sampai 11L, total 14,8L termasuk tanki standar, atau hampir setara tanki Kawasaki Ninja hahahahaha. Wahh, udah gak sabar nih buat test drive. Seminggu saya pakai ke kantor dan apa.?? T.T
Saringannya bocor. Untungnya saya ketahui saat mau berangkat ke kantor, kok ada bau bensin di garasi. Alamak rugi juga sekitar 4L bensin. Langsung telpon bengkel buat dijemput dan diperbaiki. Terpaksa saya naik angkot+busway kalau berangkat kantor, hihks ongkosnya jauh lebih mahal kalau naik angkot :(

Selama menunggu kuda besi saya "dioperasi" cangkok, saya sudah browing jalur yang akan saya lewati nantinya. Ada dua pilihan, via utara (Pantura) atau via selatan (Bandung). Sebenarnya saya belum pernah naik motor dari Jakarta ke bagian barat/timur Pulau Jawa, jadi tergolong nekat juga sih. Setelah tanya-tanya jalur yang enak kalau naik motor, saya pun memutuskan untuk mengambil jalur utara yang ramai. Karena saya berangkat sendiri maka saya pikir cocoklah kalau ambil jalan yang ramai. Jalan-jalan yang akan saya lewati saya tulis diselembar kertas rangkap 2 buat cadangan dan mempelajari petanya, lengkap dengan biaya-biaya yang akan saya keluarkan, hahahaha, udah kayak ada misi yang luar biasa penting aja.

Setelah 2 minggu, dilakukan beberapa modifikasi lainnya seperti tambah fairing kecil, tutup tanki pakai tutup tanki ninja, dan ganti selang bensin pakai selang bensin mobil, wakakakaka. Alhasil cost pun bertambah sekitar 240K, total 890K, ahh yasudahlah semoga tidak ada masalah lagi kedepannya.


---skip---


Awalnya saya merencanakan untuk berangkat tanggal 10 Agustus, Jumat malam atau paling tidak Sabtu pagi besoknya dan berniat cuti dari tanggal 13-16 Agustus. (Edaaannn, masih new employee udah ngambil cuti 4 hari, wakakakak). Untunglah datang email dari kantor dan menginformasikan cuti bersama tanggal 22-24, sehingga saya tidak jadi masalah karena curi start. Saya mengundurkan keberangkatan saya jadi tanggal 17 Agustus dan kembali ke Bekasi tanggal 26 Agustus.

Sekitar dua minggu sebelum keberangkatan, saya berpikir kalau dari 17-26 Agustus terlalu lama untuk dihabiskan cuma di Jogja doank. Maka saya berniat nyebrang ke Bali. Sekali lagi, saya juga belum pernah naik motor Jogja-Jawa Timur, paling jauh ya sampai Solo, itu juga kadang nyasar, hehe. Akhirnya saya cari dan pelajari lagi rute dan peta Jogja-Bali dan saya tuliskan di selembar kertas rangkap 2, juga biaya-biaya lainnya termasuk penginapan.

Dua hari kemudian saya terpikir lagi, ahh ke Bali kan sudah pernah, kenapa gak sekalian ke Lombok, NTB aja. Emang dasar gila ya, saya mulai survey destinasi, tiket ferry, akomodasi dll. Setelah saya hitung-hitung, ternyata biaya yang akan saya keluarkan tidak sedikit, sekitar 2,8 juta + 10% biaya tak terduga, total 3 jutaan. Langsung cek rekening cimb dan mandiri, phuff, sepertinya saya cukup sampai Lombok saja, hahaha..


FYI:
1. Jalur Bekasi-Yogyakarta via Pantura=
- Bekasi
- Cikampek
- Karawang
- Subang
- Cirebon
- Tegal
- Temanggung
- Magelang
- Yogyakarta
2. Jarak Bekasi-Yogyakarta= ± 560km
3. Bensin= 560km : 33km/L = ± 17L = IDR 76,5K
Note: 33km/L khusus untuk Jupiter MX dalam keadaan jalan cukup macet (jalanan saat mudik).


---skip---


Seminggu sebelum berangkat saya berniat servis motor "baru" saya dulu ke bengkel Yamaha. Sampainya di bengkel ternyata mereka tidak bisa menyervis motor yamaha jupiter mx model terbaru saya. Saya cukup maklum, karena tanki yang baru ada diatas mesin dan hanya ada 1 keran penutup. Saya menyervis di bengkel Bintang untuk saat itu. Saya berniat menambah keran di tanki depan agar bisa ditutup saluran ke karburator ketika tanki depan diangkat saat servis di yamaha kedepannya.

Tak lupa juga saya membeli box belakang untuk meletakkan sebagian barang saya. Juga menambah sedikit assesoris lampu dibagian samping dan mengganti head lamp yang sedikit lebih terang, jadi tidak silau untuk pengendara dari depan.


---skip---


#Kamis, 16 Agustus 2012.
Setelah semua persiapan rampung, saya ijin kerja setengah hari ke atasan dengan alasan liburan. Tapi yang ada saya malah diledek, karena mereka tau saya tidak merayakan lebaran, hahaha, ada ada saja. Oke, pukul 12 saya makan siang dulu dan pukul 1 siang pamit pulang ke atasan dan rekan-rekan kerja lain. Saya siap-siap packing dan minum 3 kaleng susu B*ar Brand. Tak lupa saya minta dibuatin bekal ke Inanguda (Istri dari saudara ayah) untuk saya bawa besok paginya. Lalu saya istirahat biar ada cukup tenaga untuk perjalanan jauh besok.

#Jumat, 17 Agustus 2012.
Bangun agak siangan sih dari jadwal yang direncanain. Saya bangun jam 5.30 dan langsung minum banyak air, lalu makan dan mandi. Cek kembali SIM, KTP, STNK dan surat-surat penting lainnya, bawa kunci motor, tanki dan kunci box cadangan buat jaga-jaga, masukin bekal-bekal dan air minum. Panasin motor dan yang terpenting tak lupa untuk berdoa. Saya berangkat pukul 07.15 WIB

Berangkat langsung tancap gas, karena jalanan belum terlalu ramai hingga sampai cikampek-Subang. Memasuki Cikampek jalanan mulai macet dan semakin macet. Mungkin bagi saya yang pertama kali melakukan perjalanan saat musim mudik, hal ini menjadi stres tersendiri. Melihat kemacetan serupa di televisi, saya bisa saja beranggapan gak menjadi suatu masalah besar bagi pengendara motor karena bisa menyalip diantara mobil-mobil dijalanan. Tapi secara langsung saya cukup stres dijalan semacet itu. Saya gak bisa bayangkan tingkat stres para pengemudi mobil. Bahkan di daerah Subang saya hanya bisa mencapai jarak 10km dalam waktu 1 jam lebih, entahlah bagaimana nasib para penumpang mobil/ bus yang bahkan terlihat tak bergerak. Beberapa supir truk juga tampak turun dan makan dipembatas jalan.

Setelah melewati kemacetan parah, saya istirahat di rest area setelah Subang. Saya makan siang dengan bekal seadanya (nasi teri ayam). Sekitar 45 menit kemudian saya melanjutkan perjalanan. Perhentian selanjutnya hanyalah sekedar beli air minum dan snack di Indomaret atau Alfamart.

Memasuki Temanggung, sudah gelap hari, sekitar pukul 20.00. Jalanan gelap, tanjak-turun, berkelok dan kondisi tubuh yang sudah mulai capek membuat perjalanan terasa cukup berat. Hingga memasuki Magelang harus istirahat dan makan malam sisa bekal di pom bensin. Karena sudah sampai Magelang, saya berniat harus sampai Yogyakarta tanpa istirahat. Selang dua jam saya sudah berada di Terminal Jombor dan seperti mendapat kekuatan baru untuk menyelesaikan hari pertama. Akhirnya saya sampai di kosn saya yang dulu masih saya perpanjang sampai akhir Agustus pada pukul 23.45. Ahh, tidak ada yang berubah dari kosn saya sejak terakhir saya tinggalkan, kecuali suasana sepi karena anak kosn sudah pada mudik (wkwkwkw, padahal baru 3 bulan gak ke Yogya).

Parkir motor, ganti baju, dan..
Gubrakkk..
ZZzzzz..


---skip---


#Sabtu, 18 Agustus 2012.
Bangun pukul 06.00, minum dan beres-beres lagi.
06.30: mandi
07.00: cari makan dan sepertinya burjo sudah gada yang buka lagi karena pada mudik. Nyari nasi padang juga tidak nemu. Muter-muter sampai Monjali baru nemu warteg, jadilah sarapan di warteg. Sayangnya, nasi dan lauk yang dingin membuat selera makan langsung hilang, dan makanan gak habis --a. Sewaktu perjalanan pulang ke kosn, ehh ternyata rumah makan Takana Sajo sudah buka akhirnya makan lagi deh, hehe..
Selesai makan, pulang, cuci tupperware buat bekal perjalanan hari ini. Oh iya, sebelumnya ada janji ketemu teman (Padmoko TF08 UGM) untuk pinjam kamera underwaternya. Jadi setelah packing, beli bekal di Takana Sajo barulah ketemuan dengan Padmoko di Kampus tercinta dan langsung berangkat menuju Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur.

Cerita kurang enaknya itu saat 2 jam perjalanan pertama sampai Solo, terpal untuk saya pakai tidur di pom bensin terbang terbawa angin. Saya menghentikan motor untuk mengambil terpal tersebut. Ehh, baru menoleh ke belakang, terpal saya sudah di tangan seorang bapak tukang ojek. Dan anda tau.? Ya, tepat sekali. Hari itu adalah pembuktian bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Saya hampir saja merelakan terpal tersebut, tapi ke depannya saya juga membutuhkannya saat istirahat. Saya memberikan 5K dan ditolak. WTF.???
"Yahh, bapak, masa cuma segitu sih, ni kan nanti buat dibagi-bagi sama tukang ojek yang lain.." ujar si bapak.
"Iya, tapi itu kan terpal saya pak, seharusnya saya tidak perlu membayar untuk barang milik saya" bantahku.
"Bapak mau tidak.?" balasnya.
"Yaudah, kembalikan terpalnya ke tempat semula biar saya sendiri yang ngambil" jawabku
"Yaudah tanya saja ke tukang ojek disana.."katanya.
"Ni 10K, sini terpalnya" potongku.
Daripada perjalanan saya terganggu, secara tidak ikhlas saya memberikan 10K.


---skip---


Perjalanan berjalan baik, hingga sampai Mojokerto ban saya goyang sepertinya bocor. Saya hentikan dan saya cek. Ternyata bukan bocor, lalu apa.? saya yang kurang terlalu mengerti mesin motor melanjutkan perjalanan dengan sedikit lebih lambat sambil mencari bengkel terdekat. Ketemu. Dan setelah dicek katanya laker roda belakang saya "termakan".
"Tolong diganti ya pak dan dikencangin rantainya" jawabku sedapatnya.
30 menit kemudian saya melanjutkan perjalanan. Namun sejam kemudian, masih terasa sedikit goyang pada ban belakang walau sedikit.


---skip---


Jalur sepanjang Paiton cukup memukau. PLTU Paiton atau Jawa Power luar biasa megah dan luasnya. Lampu-lampu dipabrik saat malam hari membuat suasana malam begitu hidup. Saya tak sempat berhenti memang, sekilas tapi awesome. Setelah Paiton saya memasuki Situbondo. Satu-satunya jalan yang membuat saya cukup merinding adalah Situbondo. Benar-benar sepi dan gelap sekali. Jalanan juga tanjak-turun berkelok, kanan kiri hutan dan tak ada lampu penerangan hingga keluar hutan sejauh 20km. Saya merasakan jantung saya sedikit berdebar. Terang saja, saya jalan sendiri.


---skip---


Pukul 22.00 sampai di Ketapang dan ketemu keluarga yang hendak liburan ke Bali, yaudah langsung kenalan dan jalan bareng lalu pesan tiket Ferry. Sekitar 30 menit penyebrangan sampailah di Gilimanuk, Bali dan seperti biasa, ada pengecekan identitas. Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat di pom bensin terdekat bareng mereka yang dari Bandung.


FYI:
1. Jalur Yogyakarta-Ketapang=
- Yogyakarta
- Klaten
- Solo
- Sragen
- Ngawi
- Caruban
- Nganjuk
- Jombang
- Mojokerto
- Pasuruan
- Probolinggo
- Paiton
- Situbondo
- Asem Bagus
- Sumber Anyar
- Ketapang.

2. Jarak Yogyakarta-Ketapang= ± 560km
3. Bensin= 560km : 33km/L = ± 17L = IDR 76,5K


---skip---


#Minggu, 19 Agustus 2012.
Pukul 06.00 bangun pagi, beres-beres, mandi dan sarapan. Lalu melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Padangbay untuk menyebrang ke Pelabuhan Lembar, Lombok.


---skip---


Singkat cerita saya sampai di Padangbay pukul 14.00 WITA dan perjalanan Padangbay-Lembar memakan waktu 5 jam. Sesampainya di Lembar saya langsung menuju kota Mataram untuk beristirahat. Saya telah survey beberapa akomodasi khusus backpacker sekitar kota Mataram dan saya mendapatkan penginapan di Wisma Nusantara II seharga 60K/night :)


FYI:
1. Jalur Gilimanuk-Padangbay=
- Gilimanuk
- Melaya
- Negara
- Mendaya
- Pulukan
- Sura Berata
- Soka
- Arto Sari
- Miling
- Tabanan
- Denpasar
- Gianyar
- Kusamba
- Padangbay.

2. Jarak Gilimanuk-Padangbay= ± 120km
3. Bensin= 120km : 33km/L = ± 3,6L = IDR 16K


Dokumentasi:
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.4143786271240.2150220.1181224291&type;=1&ref;=notif&notif;_t=photo_album_comment

#to be continued


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

immanuelfistek
immanuelfistek
immanuelfistek Newbie
pd. 17 Maret 2013, 12.04

#Senin, 20 Agustus 2012.
Saya bangun jam 6 dan langsung pesan teh hangat ke receptionist buat pembuka semangat hari itu. Tujuan saya pertama adalah GILI, hahaha..alasan kenapa saya pilih Gili sebagai destinasi pertama adalah untuk membuktikan perkataan teman-teman saya tentang keindahan Gili, dan saya penarasan. Disamping itu saya sebaiknya ke destinasi utama di awal-awal, karena tenaga masih cukup untuk bermain disana, daripada hari-hari berikutnya kesana mungkin sudah terlalu capek jadi gak total, atau malah mungkin bisa jadi kelupaan, wkwkwk.

Oh iya, kemarin malamnya sempat beli pop mie, kata receptionistnya tanggal 20 pasti gada yang buka, karena pada lebaran. Minta air panas lagi deh ke dapurnya, wkwkwk. Karena jalurnya belum tau makanya sekalian tanya ke mereka.

Jalur yang saya lewati adalah:
Mataram - Ampenan - Dayen - Batubolong - Senggigi - Pemenang - Bangsal.
Takut lupa, langsung saya catat, heuheuheu..

Setengah jam selesai semua dilahap, sebenarnya masih laper. Maklum biasanya makan porsi kuli :beer: tapi gapapalah. Beres-beres kain yang dibawa dll. Saya pakai celana panjang, sendal swallow, kaos, jaket dan terpal serta di box belakang diisi celana pendek, kaos, sama kolor buat pulangnya.

"Berangkat dulu ya bu, dan tolong titip kunci kamar donk, hehe" saya pamit sebelum take off.

Selama perjalanan memang benar tak ada satupun warung yang buka. Sampai 30 km pertama berhenti di Indomaret beli bekal. Teman bilang disana mahal banget, langsung beli banyak bekal, ckckck..yang saya beli adalah 2 aqua 1,5L, pringgles, sama sari roti, sepertinya sudah cukup pikir saya. Perjalanan berlanjut. Sempat berhenti sebentar di sebuah bukit karena lihat orang rame. Ehh, ternyata pemandangannya itu lho, makjanggg, keren banget, sumpah. Yang saya bisa lihat dari atas bukit itu adalah Gunung Rinjani di sebelah kiri saya dan Pantai Senggigi di kanan saya, dan tampak secuil daratan di tengah lautan arah jam 1. Mungkin daratan itu adalah Gili Trawangan, pikir saya.

FYI: Gili di barat Lombok ada tiga, Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Dan Gili paling besar dan paling "hidup" adalah Gili Trawangan. Saya semakin gak sabar untuk melanjutkan perjalanan, ambil satu dua foto lalu melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di Senggigi, saya mampir tapi lewat jalan-jalan kecil semacam hutan gitulah. Soalnya pintu masuk ada beberapa, dan berbayar, makanya saya ambil yang gratisan, wkwkw.
Disana banyak sapi berkeliaran, yang jadi masalah, saya nginjek kotorannya --a.

Di Senggigi saya gak mandi sih, hemat tenaga main di Gili aja deh ntar :). Perjalanan berlanjut. Gak sampai 20 menit sampailah di Bangsal, sebuah pelabuhan kecil (lokal) untuk bertolak ke Gili. Jarak tempuh Mataram-Bangsal gak terlalu jauh, hanya sekitar 60 km. Tapi tanjakan dan turunannya yang seram. Cukup curam dan berkelok pulak, haddeeuuhhh..mana ban belakang terasa sedikit goyang lagi -__-.

FYI: harga tiketnya cukup terjangkau:
Bangsal - G. Trawangan = 10K
Bangsal - G. Meno = 9K
Bangsal - G. Air = 8K
G. Trawangan - G. Meno = G. Meno - G. Air = 10K

Saya parkir motor di bangsal (5K/day atau 10K/night) dan langsung beli tiket tujuan G.Trawangan dulu, nanti kalau sempat baru mampir ke Gili lainnya. Setelah beli lalu nungguin kapalnya datang di luar. Memang udara pesisir itu panas banget ya (ya iyalah). 5 menit kemudian datang kapal dan berangkat. Yang saya heran, di kapal saya semuanya orang Indonesia (domestik), tapi tadi waktu pesan tiket, bulenya banyak amat, pada kemana ya --a.

Dalam perjalanan saya melihat fast boat dan ditumpangi bule-bule, salah satunya saya lihat bule yang saya temui waktu beli tiket. Dalam hati, ternyata mereka pesennya yang fast boat toh -__-. Harga fast boat adalah 400K max 10 orang. Ahh biarlah, namanya juga bikepacker, kudu hemat, hahaha dasar pembelaan :p. Lautannya biru banget dan jernih, saya rekam sana rekam sini, foto sana foto sini, hehe. Tak terasa perjalanan kurang dari 30 menit sampailah di Gili Trawangan. Perasaan saya pertama adalah seperti bocah hilang T.T


#Intermezzo..
Berada di Gili Trawangan, rasanya saya seperti berada di Eropa. Mayoritas pengunjung adalah bule, hampir 85%, dan kebanyakan adalah orang Spanyol, Inggril, Swedia, dan Australia. Ini saya lihat di list beberapa penyewaan snorkle sebelum saya menyewa untuk saya pakai. Bagi saya, indikator DTW (Daerah Tujuan Wisata) untuk "cowok" itu adalah jika banyak dikunjungi bule. Artinya, bule itu biasanya suka olahraga yang menantang, memicu adrenalin dan yang seru-seru gitulah pokoknya. Dan saya cukup heran, kenapa orang Indonesia pada berlibur keluar negeri, sedangkan orang luar negeri pada berlibur ke Indonesia..?
Bingung habiskan duit gan (hmm..)
Gengsilah gan (hahaha..)
Sarana dan prasarana diluar lebih baik gan (mungkin..)
Prestisnya gan (hahaha..)
Di Indonesia bingung mau kemana gan (orang Indonesia apa bukan sih --a )
dll


Alasan saya lebih memilih berlibur di dalam negeri ketimbang luar negeri adalah:
Indonesia luar biasa kaya adat dan budaya, suku, panorama dan sebagainya (main reason)
Memperkaya negeri sendiri (sebelumnya gak kepikiran hahaha)
Jadi lebih mengenal Indonesia beserta keragamannya (yoii gan)
Murah (hahahha)
Belum buat paspor (hahaha, sebenarnya gak juga sih, ntar deh buat paspor kalau ada assignment dari kantor :p)
dll.


Hal yang pertama saya lakukan adalah survey harga snorkle termurah. Dan saya dapat 25K untuk respirator+goggle, vest, dan sepatu katak pakai sepuasnya (sampai jam 5 sore). Ini yang gak bisa banyak cerita, tapi selama snorkle ini pulalah yang paling saya nikmati. Pantainya luar biasa jernihnya. Sebelumnya saya pernah ke Bangka, tepatnya Bangka Barat saat KKN Juli 2010. Dan pantai-pantai di Bangka adalah pantai terindah yang pernah saya kunjungi. Namun sekarang, terpaksa harus puas berada di posisi dua setelah pantai di Gili. Pasirnya putih, airnya jernih, harganya penyewaan alat lebih murah, underwater worldnya bagus dan yang paling saya suka adalah bersih. Saya juga menyewa sepeda untuk berkeliling pulau. Sebentar-sebentar berhenti dan snorkle lagi kalau ada pantai yang saya anggap bagus untuk diselami. bersepeda lagi, nyelam lagi, sepeda lagi nyelam lagi sampai puas. Terakhir saya kelilingi pulau itu lagi, dan cuma butuh waktu 20 menit bersepeda.

Akomodasi disana ada juga khusus buat bikepacker (60K/night). Tapi ada juga penginapan bergaya rumah adalah suku sasak, unik juga, hehe. Capek main air dan sepedaan, saya buka terpal dan penasaran gimana rasanya "sun bathing". Dan anda tau.?? saya gak kuat berjemur 10 menit, langsung pindah ke tempat yang teduh, entah ada yang liat atau enggak, bodoh amat, wkwkwkw. Ternyata mereka pakai semacam minyak goreng, hahaha. Pantesan aja, gak bilang-bilang mereka. Tak terasa sudah pukul 4 sore WITA, dan saya harus kembali ke Bangsal, karena kapal terakhir hanya sampai jam 5 sore WITA. Saya tak sempat berkunjung ke Meno dan Air, mungkin anytime :(.

Mandi dan beres-beres. Saya pakai sepeda untuk ke tempat pemandian, lumayan juga kalau jalan kaki, mana capek lagi. Sampai di tempat, wahh kudu ngantri lagi nih. Hampir sejam saya ngantri dan seorang nenek di depan saya mengetok-ngetok pintu kamar mandi dan berbicara dengan bahasa yang tak saya mengerti (mungkin bahasa sasak), dan seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa saya berasa sedang berlibur ke luar negeri, karena sesama orang Indonesia saja saya tidak tau bahasanya, dan sekali lagi, ini menunjukkan betapa kayanya Indonesia itu.

Selang beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka dan saya sempat terkejut, diikuti oleh beberapa orang yang ngantri. Tau kenapa.? Ternyata yang keluar adalah seorang cowok dan seorang cewek. Saya taksir usianya mungkin baru 16-18 tahun. Pantesan aja lama banget "mandi"nya, ada dua orang toh ternyata. Sial, gatau tempat apa mereka, gilak juga dikamar mandi umum mandi bareng, phuff. Yang lain masih melirik-lirik ke mereka berdua, sampai mereka pergi berlalu.

Saya mempersilahkan nenek tadi mandi terlebih dahulu. Dan karena memang nenek itu ngantrinya lebih awal, wkwkwk. Setelah nenek tadi keluar, saya buru-buru mandi dan balikin sepeda, lalu ke loket tiket dan nungguin kapal penjemputan menuju Bangsal. Lelah seharian main air dan sepedaan, saya hanya duduk-duduk saja di kapal hingga sampai Bangsal. Di Bangsal, saya mengambil motor yang diparkir tadi pagi dan langsung balik ke Mataram. Di perjalanan pulang saya hanya berhenti sekali untuk mengambil foto sunset. Sunset yang indah. Mungkin karena ada Rinjani-nya :). Sehabis itu saya langsung pulang, dan di perjalanan saya merasa capek banget, kadang goyang juga penglihatan. Sampai Mataram saya langsung ke penginapan dan berniat makan malam lalu tidur. Saya pergi nyari ayam taliwang (makanan khas lombok). Sebelumnya saya sudah pernah makan taliwang di Bali dan di Jogja, tapi tetap aja penasaran karena yang saya dengar ternyata Ayam Taliwang itu asli Lombok. Dapatlah warungnya dan pesan seporsi. Saya pamit ke Ind*maret sebelah warung untuk beli minum dan buat sarapan besok paginya lagi. Sekembalinya ternyata belum datang pesanan. Saya tungguin 10 menit lagi ternyata belum juga datang, untung ada teman ngobrol di depan. Sepasang muda-mudi asli Lombok. Ternyata ngobrol tidak cukup kuat untuk menahan rasa lapar. Saya dan mereka protes makanannya yang belum datang-datang juga. Karena benar-benar laper dan capek, saya samperin dan tanya pesanan saya kok gak dianter.

"Nasinya habis pak, lagi dijemput" jawab penjualnya.
"Ok, thanks, pesanan saya batal.." balasku sambil berlalu.

Sial banget gak tuh, kenapa gak dikasih tau daritadi kalau nasinya bakal lama datang. Saya cari makan ditempat lain dan dapat nasi goreng. Tanpa babibu langsung pesan nasgor pedas plus "air dokter". Saking laparnya, nasgor pun habis gak lebih dari 10 menit, bayar dan langsung cabut lalu tidur.


---skip---


#Selasa, 21 Agustus 2012.
Hari ini saya jadwalkan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata. Saya berkunjung ke Desa Sukarare (desa pengrajin kain tenun suku sasak), Desa Sade (desa wisata rumah adat Suku Sasak), Pantai Kuta. Perjalanan pertama dimulai ke Desa Sukarare. Jalan yang saya lewati adalah:
Mataram - Cakranegara - Telagawaru - Ubung - Praya.
Jarak tempuh sekitar 40 km.

Lumayan sulit juga menemukan desa ini. Saya harus bertanya beberapa kali. Persisnya desa ini memang tidak dilalui jalan besar, dan petunjuk jalan ke desa ini juga tidak ada. Sesampainya di Desa Sukarare, saya berkunjung ke rumah salah satu warga, dan melihat cara mereka menenun. Sangat tradisional. Saya juga pernah melihat cara membuat kain ulos asal Sumatra Utara. Caranya hampir sama tapi alat pembuat ulos lebih besar. Ternyata mereka hanya dapat membuat 1 lembar kain sasak ukuran 1,5x2m dalam satu hingga dua bulan per orang. Kalau menurut saya, corak kainnya sedikit mirip dengan kain suku di Kalimantan.

Sebenarnya saya belum puas untuk mencoba, tapi waktu yang sudah saya rencanakan harus dilaksanakan dengan tepat. Sebelum meninggalkan rumah pengrajin tersebut, saya dipersilahkan mampir ke dalam rumah mereka dan melihat koleksi-koleksi mereka. Dan saya membeli 2 potong kain seharga 500K dan 100K. Saya menanyakan juga jalan menuju Desa Sade yang menjadi destinasi saya selanjutnya. Saya mencatat jalur yang diberikan sembari pamit. Dalam hati saya, orang Indonesia memang ramah-tamah :).

Jarak dari Sukarare ke Sade tidak begitu jauh, hanya sekitar 15 km. Memasuki Desa Wisata Sade, yang saya lihat dari luar hanya seperti kampung kecil yang sepi. Biaya masuk sukarela, dan saya memberikan 5K untuk memutari desa. Di desa ini juga terdapat pengrajin kain sasak, syal dan kaos bertuliskan love sade/ lombok/ NTB dll. Saya memang kurang berminat untuk membeli kaos semacam itu, jadi saya hanya sekedar berkeliling saja. Saya juga dipersilahkan masuk ke dalam rumah mereka. Rumahnya tidak begitu besar, berlantai campuran ijuk, kotoran kerbau dan tanah. Lantai berundak 5 menyimbolkan bahwa mereka yang mayoritas islam sebagai agama kelima yang masuk ke Indonesia. Mayoritas pekerjaan mereka adalah bertani, karena itulah rumah adat mereka disebut Bale Tani. Bale artinya rumah dan Tani artinya petani.

Keluar dari Desa Wisata, saya menyempatkan diri untuk ngobrol dengan warga sasak. Beruntung saya bertemu dengan dua orang guide desa wisata tersebut. Adalah pak Saucah dan pak Zulfi. Dari mereka saya mulai mengerti tentang adat dan kebiasaan warga sasak, hubungan Gunung Rinjani, Lombok dengan Gunung Agung, Bali, perayaan tahunan menangkap cacing laut untuk memperingati putri Mandalika di Pantai Kuta, sejarah islam di Desa Sade, sejarah Indonesia, dan lainnya. Yang saya tekjub adalah guide Zulfi, umurnya sekitar 40an (persisnya saya lupa). Beliau hapal tanggal-tanggal KMB, hari, jam dan tanggal kedatangan mantan presiden Soeharto ke Lombok, hari lahir saya (tanggal lahir saya beritahu sebelumnya) dan hari jam pertemuan kami bertiga, sampai-sampai beliau berkata:

"Dengan ini saya putuskan, kita bertiga, saya Zulfi, bapak Saucah dan bapak Immanuel bertemu pada Selasa, 21 Agustus 2012 pukul 11.10 WITA di depan Desa Wisata Sade. Semoga kita bertemu di lain waktu jika Allah SWT mengijinkan.." kata pak Zulfi.
"Baik dan terima kasih pak.." jawabku sambil tersenyum.

Saya terkejut, bahkan saya pun tak ingat hari apa saat itu. Walau saya tidak tau juga tanggal-tanggal yang dikatakan oleh pak Zulfi benar tidaknya, tapi melihat percaya diri saat berbicara, saya sedikit mempercayai beliau, disamping itu beliau juga benar tentang hari kelahiran saya. Hingga pak Saucah sendiri yang berkata bahwa pak Zulfi adalah guide terpintar yang dimiliki Desa Sade. Saya beruntung bisa bertemu mereka. Saya pamit dan tak lupa mengucap terima kasih. :).

Dari Desa Sade saya bertolak ke Pantai Kuta. Perjalanannya lebih dekat, sekitar 10 km, dan disepanjang jalan saya sesekali melihat monyet liar nyebrang jalan atau minum di pecahan pipa air di tepi jalan. Sampailah ke Kuta Lombok. Memang benar kata orang-orang bahwa Kuta Lombok lebih bagus dari Kuta Bali. Saya juga mengamini juga karena saya pernah ke Kuta Bali. Sama seperti sebelumnya, saya ke Pantai Kuta Lombok via jalan "alternatif".
Cuma sekitar 10 menit saja berjalan di Kuta, dan mata saya segar kembali. Anginnya terasa sejuk di siang yang panas. Pikiran lebih tenang, melupakan sejenak urusan kantor. Rasanya berat untuk beranjak pulang kembali ke penginapan. Namun, jam masih menunjukkan pukul 2 siang, saya bingung mau ngapain. Saya meneruskan perjalanan ke arah Timur untuk melihat ada apa lagi disana. Jalan tak begitu bagus dan semakin rusak. Kerusakan 70%. Ingin rasanya kembali saja. Namun 500 meter di depan ada plank bertuliskan arah menuju Pantai Seger. Nama pantai yang tentu saja membuat saya tambah penasaran. Biaya masuk hanya 2K tapi yang saya dapatkan sungguh luar biasa. Pantai yang sangat-sangat indah, namun sayang saya tidak membawa pakaian ganti.

Saya bertemu dengan seorang warga negara Belanda, kalau tak salah namanya Mr. Gerrad/ Gerrald/ Gerral atau semacamnya. Beliau datang sendiri dari hotelnya di sekitar Pantai Kuta. Istri dan 2 anaknya lagi istirahat di hotel. Saya memesan es kelapa muda untuk berdua dan ngobrol santai. Sebelumnya saya minta difotoin dulu di Pantai Seger, heuheuheu.

Mr. Gerral ternyata sudah kali ke empat datang ke Indonesia, saya berasumsi bahwa kedatangannya ke Indonesia semakin menguatkan pernyataan bahwa Indonesia adalah surga kecil di dunia. Sekitar setengah jam kemudian beliau pamit dan sekitar 10 menit kemudian juga saya kembali ke penginapan


---skip---


#Rabu, 22 Agustus 2012.
Saya hanya merencanakan untuk wisata santai hari ini, karena besok Kamis, 23 Agustus saya akan kembali ke Jogja. Tak lupa saya sarapan dulu lalu bertolak ke Narmada. Narmada adalah miniatur Gunung Rinjani beserta kerajaan-kerajaan yang dulunya menduduki Rinjani. Cerita itu saya dapatkan dari pak Zulfi saat di Desa Sade. Sampai di Narmada, saya parkir di depan gerbang masuk dan pesan tiket, 5K. Suasananya seperti Tamansari di Jogja. Bedanya disini ada kolam untuk naik sepeda air, kano dan flying fox. Sempat nyoba flying fox sekali sebelum pulang ke penginapan.

Perjalanan ke penginapan tidak ada yang spesial, kecuali 2 tabrakan motor di tempat yang sama. Melihat itu, saya cuma berdoa tidak terjadi apa-apa bagi saya selama perjalanan pulang. Sejam kemudian sampai penginapan dan langsung ke Ind*maret beli buat sarapan besoknya, lalu beres-beres kain kotor dan siap nyari makan malam.

Saya makan malam ditempat yang sama saya memesan Ayam Taliwang kemarin, dan tetap rada lama pesanan saya baru datang, phuff..
Gak enaknya solo bikepacker itu adalah tidak ada teman ngobrol saat makan -__-
Ternyata harga Ayam Taliwangnya lebih mahal daripada yang pernah saya makan, seporsinya 30K dan nambah nasi semangkok 5K. –a

Saat pulang saya berniat keliling kota Mataram dulu. Kota Mataram tidak begitu besar, saya hanya berkeliling setengah jam lalu pulang. Sampai di penginapan saya duduk-duduk sambil merencanakan perjalanan besok lalu tidur.


---skip---


#Kamis, 23 Agustus 2012.
Saya bersiap-siap untuk pulang ke Jogja dan pamitan ke receptionist. Sebenarnya masih pengen lama-lama di Lombok dan masih banyak yang belum saya kunjungi tapi another time maybe. Berangkat dari Mataram ke Pelabuhan Lembar cuma 1,5 jam. Sampai Lembar pukul 9 pagi WITA, berangkat ke Padangbay dan sampai di Padangbay pukul 1 siang WIB. Saya langsung menuju ke Gilimanuk. Memasuki Gianyar saya sempat kesasar, dan kesasar lagi di Denpasar menuju Tabanan, hadeuhhh..

Sampai di Tabanan saya lupa mengisi bekal saya buat di jalan. Cari warung nasi padang dan isi tupperware. Harganya kadang gak masuk akal juga, saya pesan seporsi nasi perkedel (8K), seporsi nasi telor (9K) dan seporsi nasi rendang (14K). Terpaksa. Selama perjalanan saya tidak berani memacu motor dengan cepat, karena jalanan macet banget. Mungkin sudah masuk arus balik, batinku. Keluar Tabanan, ban belakang bocor.

Arrgggghh. Sudah capek, malam, sendiri, dorong, tanjakan, mana macet lagi. Hanya saja cukup bersyukur 300 m dari TKP ada tambal ban 24 jam.

Saat ban di tambal saya ijin makan sama tukang tambal ban-nya. Saat nambal, tukang tambalnya sempat tanya..

"Pak, yang di depan ini apa ya.? bagasi.?" tanyanya.
"Tanki pak, tanki bensin" jawabku bangga.
"Ohh, jadi tanki belakang.?" tanyanya lagi.
"Pakai dua tanki pak, dicabang sama tanki bawaan dan cabang ke karbu" balasku lagi.
"Wahh, bagus banget.? barapaan harga sama kapasitasnya.?" masih bertanya.
"Cukup mahal pak, 900K. Kapasitas 11L depan, jadi total 14,8L." semakin bangga :)
"Bagus banget nih, sini saya beli 800K, mau tidak.?" tawarnya.
"Wahh jangan pak, ini saja baru bulan lalu buatnya, lagian kalau dilepas sekarang bisa tercecer bensin saya" tolakku dengan halus.

Setelah selesai, saya pamitan lagi dan melanjutkan perjalanan ke Gilimanuk. Memasuki Gilimasuk sebenarnya ada insiden kecil tapi yasudahlah, tak penting.


---skip---


Naik ferry menuju Ketapang saya mulai pusing. Mungkin karena baru 1x makan nasi di Tabanan. Saya tidur-tidur ayam dan sampai di Ketapang sekitar pukul 9 malam. Istirahat 5 menit dan beli frestea di Ind*maret. Saat baru jalan sekitar 5 km minuman saya terjatuh, karena sebelumnya saya taruh di kantong jaket dan tidak di resleting -__-"

Yasudalah lanjut lagi aja. Insiden di Bali terulang lagi saat masuk Sumber Anyar.
Sekalian saja saya break dan tidur di pom bensin Sumber Anyar.


---skip---


#Jumat, 24 Agustus 2012.
Paginya saya berangkat dan pamit ke penjaga pom bensin. Ehh, baru masuk Asem Bagus, ban belakang bocor lagi. Ahh, sepertinya ban saya sudah mulai gak bagus nih. Belum sarapan, udah dorong-dorong motor, sendiri lagi, hadeuuhh.. Setelah dapat tukang tambal ban-nya, ada yang beda dari peralatan yang digunakan. Ya, tepat sekali. Bapaknya menggunakan pompa manual, sedikit ragu tapi apa daya. Beliau mungkin tau saya ragu, maka diceritakan bahwa beliau sudah 27 tahun sebagai tukang tambal ban dan tidak pernah ada masalah. --a

Memasuki Situbondo, saya penasaran jalan yang sebelumnya sempat membuat saya merinding kalau melewatinya. Ternyata bagus juga. Kanan kiri hutan. Enak dipandang mata. Perjalanan pulang kali ini cukup lama, karena arus mudik mulai bertambah. Saya melaju terus hingga memutuskan untuk istirahat di Sragen di rest area salah satu parpol berlambang pohon beringin. Mereganggakan badan dan minum air putih. Istirahat 30 menit dan lanjut ke Jogja. Sampai Jogja sekitar pukul 10 malam, tapi saya tidak langsung pulang ke kosn. Saya menyempatkan diri melihat-lihat di Monumen Oemoem 1 Maret. Ahh, Jogja memang selalu ngangenin :'). Sempat berfoto dengan komunitas "Zombie" dari ISI Jogja sebelum pulang. Sampai kosn saya langsung roboh dan tidur.

#Sabtu, 25 Agustus 2012.
Saya sarapan di T*akana S*ajo, serta mengisi tupperware buat bekal. Langsung tancap gas menuju Bekasi. Tapi memang, mungkin karena hari itu adalah puncak arus balik, saya sampai di Bekasi hari Minggu subuh. (Sorry di skip biar cepat, udah ngantuk saya nulisnya, thanks buat yang baca and have a nice day)


FINISH.


Dari perjalanan saya ini, sudah sepatutnya saya berterima kasih kepada:
Tuhan Yesus Kristus yang saya percaya selalu menyertai saya di setiap perjalanan hidup saya. Immanuel artinya Tuhan beserta kita.
Orangtua saya, yang awalnya melarang dan saya berusaha meyakinkan mereka bahwa saya akan berlibur dengan hati-hati.
Inanguda/ Uda saya, yang selalu menasehati dan membantu persiapan keberangkatan saya dan kepulangan saya.
Saya sendiri, yang selalu ingat untuk berdoa di setiap perhentian dan setiap melakukan kegiatan.
Orang-orang yang saya jumpai di setiap perjalanan, yang bersedia saling berbagi cerita, pengetahuan dan nasehat.
Motor Jupiter MX B 6454 KQD, yang selalu setia menemani perjalanan saya kemanapun saya pergi.
Dll.


# Semoga catper saya kali ini berguna (sebagai referensi) kepada semuanya.


Regards,
Immanuel Lumban Gaol
(noel-red)

Suka 0

© backpackerindonesia.com