Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

6mm per second menuruni Lawu

agastyawan
agastyawan, pada 27 Maret 2013, 8.06
di Blog

Lawu gunung yang menjulang di perbatasan karanganyar dan magetan ini menjadi saksi akan ketangguhan pusaka wariors yang masih nubie. Gunung setinggi 3265 m ini akhirnya tertaklukan oleh 4 orang anggota pusaka wariors ( rani atau gudel, ervan atau bosgenk, andy dan aku,agas) pada tanggal 27 Desember 2012.
Beginilah ceritanya coi
Seperti awal awal perjalanan pusaka wariors yang lalu, saudara rani menjarkom ke seluruh anggota untuk mendata siapa saja yang mau ikut. Rencana awal yang konfirmasi mau ikut ada 6 orang, tidak termasuk aku yang masih ragu dan bingung karna cuaca yang tak menentu. Hujan adalah kendala utama. Dalam benak hanya berpikir, kalau hujan nanti dingin, licin, becek dan mungkin ga bisa liat sunrise.
Hari pendakian akhirnya tiba tanggal 26 Desember 2012, akhirnya kuputuskan ikut. Kami berkumpul di rumah saudara Rani pukul 13.00 sebagai titik kumpul. Dan ternyata setelah bertemu Rani, dia berkata bahwa 3 orang mengundurkan diri karna ada tamu dan tidak fit. Sekitar jam setengah dua waktu Klaten, kami berempat , gudel, bosgenk, andy dan aku, berangkat menuju ke pos pendakian di cemara kandang karanganyar dengan naik motor. Belum juga sampai cemara kandang kami malah sudah diguyur hujan cukup deras yang membuat kami memilih berteduh di UNS Fakultas seni. Sembari mengeringkan badan, jaket, sepatu dan lain-lain, kami mengecek perlengkapan yang ternyata minim. Sampai pukul empat sore hujan yang ditunggu tak kunjung reda, alhasil kami memutuskan menerabas hujan dengan memakai mantel. bosgenk dan aku terpaksa melepas sepatu cokoran untuk menjaga agar sepatu tak tambah basah. Dingin banget bro...
Sekitar pukul lima sore waktu karanganyar, kami sampai di basekamp pendakian cemoro kandang. Cemara kandang begitu indah dan dingin. Di pinggir jalan banyak pedagang asongan yang menjual bakso penthol, mie ayam, jagung bakar. Selain itu ada banyak warung yang menjual makanan dan minuman bernama aneh. Bergetar kakiku ketika berdiri di depan gerbang pendakian, bukan karena takut tapi karna dingin efek cokoran sepanjang jalan serta diguyur hujan. Rencana kami akan memulai pendakian setelah ibadah Isya, kurang lebih jam 8. Sambil menunggu sang waktu, aku mengeringkan kaos kakiku yang basah dengan menaruhnya di atas knalpot motor. Rani usul mungkin lebih baik mendaki lewat jalur cemara sewu saja karena jalur cemara kandang jalurnya banyak jalan bercabang dan licin. Kami memarkir motor di cemara kandang dengan tarif 5000/motor/malam sesuai rencana kami yang akan turun lewat jalur itu.
Sore menjelang Maghrib, suhu menjadi makin dingin kami berjalan dari cemara kandang karanganyar ke cemara sewu di magetan (100m). Sekalian pemanasan, sambil menyesuaikan dengan lingkungan. Dengan membayar 3500, kami sudah mendapat tiket pendakian dari cemara sewu. Setelah Maghrib kami mengisi perut untuk tenaga pendakian. Cukup dengan 8000 kami mendapat pecel/soto dan teh panas. Kata adik penjual warung, hari ini yang mendaki tidak banyak beda dengan waktu malam 1 suro dan malam natal, banyak banget pendakinya.
Inilah waktunya perjuangan di mulai, setelah Sholat Isya, kami siap untuk mendaki. Kami memakai perlengkapan yang kami bawa. Jaket, sarung tangan,kaos kaki, kupluk dan senter sudah menempel pada badan kami. Tapi ternyata Bosgenk hanya memakai celana kain, jaket tanpa penghangat badan lainnya, super sekali. Inilah bosgenk, mengingat waktu ke bukit cikunir, dia juga hanya memakai perlengkapan minim. Sekitar jam setengah 8 malam waktu magetan, kami memasuki gerbang pendakian cemara sewu.
Jalur pendakian cemara sewu memang terdiri atas batuan2 yang dibuat berundak-undak. Jadi kita harus memilih pijakan batu yang datar dan kokoh agar energi kita tidak cepat habis untuk menompang tubuh, kata gudel. Seperempat jam kami berjalan, kami sampai pada bangunan tak permanen. Kami kira itu pos 1, tapi kok cepat kalee. Jangan-jangan Lawu tidak setinggi seperti kami duga. Kami beristirahat sejenak di sini, karna bosgenk kena suduken, sebuah penyakit perut yang diderita setelah makan lalu olahraga. Setelah itu kami berjalan sekitar 15 menit dan menemukan bangunan yang mirip. Kami kira itu pos 2, wuohh ternyata tidak tinggi pikir kami. Jalur disini masih landai terbuat dari semen sepertinya dipenuhi pepohonan yang menjulang di kiri dan kanan. Lanjut kami berjalan menuju pos 3 pikir kami. Perjalanan ini lebih lama dari tadi, karna memang pos 2 ke 3 kayaknya lama. Terkadang kami berhenti karna bosgenk, kakinya keram. Sekitar jam 9 kami sampai di sebuah bangunan lagi, dengan atap terbuat dari seng sepertinya. Woalah,, ini ternyata Pos 1 sebenarnya karena disini tertulis seperti itu pada papan berwarna hijau. Ternyata lawu memang tinggi seperti yang kita perkirakan, 2 bangunan tadi cuma bangunan dasar. Tapi kami tetap semangat namanya juga wariors. Istirahat disana sebentar sambil meratapi betapa banyaknya sampah di pos ini, huuu.
Perjalanan masih panjang, sekarang jalurnya mulai sedikit menanjak menuju pos 2. Kami keluar dari pepohonan dan memulai dengan jalur berbatu. Walau sedikit mendung, bulan mulai memperlihatkan dirinya dan kadang bersembunyi di balik awan. Tanpa senterpun sepertinya kami bisa melihat jalur pendakian, mungkin mata kami sudah terbiasa. Namun kami tetap menggunakan senter untuk berjaga-jaga. Kembali dalam perjalanan ini keram menyerang bosgenk. Kalau kita keram pada kaki kiri angkat tangan kanan kita setinggi mungkin untuk menyembuhkannya kata saudara andy. Jam setengah 11 sepertinya, karna kami tak sempat lihat jam, sampailah kami di pos 2. Ternyata di samping pos ini sudah berdiri dua tenda. Sepertinya orangnya sudah tidur karena sepi banget. Pos ini pun sama pos 1 yang kotor karna sampah. Bedanya atapnya sudah berlubang.
Kami mulai melanjutkan perjalanan menuju pos 3 tanpa beristirahat karena tak mau mengganggu orang yang kemah. Jalur selanjutnya semakin curam dan batu-batuan banyak yang bergerak sehingga menguras lebih energi kami. Pada titik ini aku mulai pusing karena ketinggian atau mungkin temanku juga pusing. Hampir setiap lima menit kami mulai beristirahat sejenak karna aku wis ngos-ngosan dan bosgenk semakin sering kambuh kram-nya. Sedikit demi sedikit minum air niatnya untuk mengisi energi lagi, akhirnya bro Gudel mengeluarkan SENJATA andalan pengisi tenaga yang berbentuk batangan, cukup keras, berwarna gelap dan rasanya ada pahitnya yang kami sebut coklat. Sekitar pukul 12 kami sampai di Pos 3 dengan udara yang semakin dingin.
Pos 3 sama lebih sedikit sampah dari pos sebelumnya. Pos ini sudah tidak beratap, mungkin sudah diterpa angin gunung lepas atau mungkin tidak diberi atap. Kami berhenti untuk minum sejenak dan mengisi tenaga. Tinggal dua pos lagi dan kita sampai di puncak. Lanjutlah kita berjalanberjalan selangkah demi selangkah. Dari jalur ini terlihat gemerlap lampu-lampu kota magetan yang begitu indah, sehingga di sepanjang perjalanan hampir terucap kata CETAR MEMBAHANA bro. Angin gunung tambah sembribit tak menggoyahkan semangat kami. baru beberapa puluh menit kami berjalan, mulai terdengar suara dari atas, mungkin itu rombongan di atas kami mulai tersusul. Woah ternyata kami sampai di pos 4 dan suara tadi berasal rombongan yang kemah di samping pos 4 sepertinya dari UGM. Di pos ini kami tidak melihat bangunan tapi hanya papan hijau saja. Tak beristirahat di pos ini kami melanjutkan perjalanan dan ternyata 15 menit berjalan kami sampai di pos 5 berupa padang rumput luas. Dari sini pemandangan kota magetan makin indah saja apalagi siang hari, kata saudara Andy. Sampai di Pos ini kami beristirahat dan berbincang-bincang. Perbincangan ini melayang karena mendengar suara cewek dari rombongan di Pos 4. Bro andy bilang kalo ngajak cewek enak soalnya ada yang masak, tapi aku menyangkal lebih enak mendaki cowok semua. Soalnya kalau ngajak cewek, pasti aku malu karena baru pos 3 aja udah ngos-ngosan minta ampun, hahaha. Tapi perbincangan kami terpaksa terhenti, karena gerimis mulai mengguyur kami. Kami langsung bergegas menuju destinasi selanjutnya warung mbok yem, karena kami tidak membawa tenda untuk berkemah.
Tibalah kami pada sebuah tempat yang disebut Sendang Derajat. Tempat ini terdiri dari beberapa bangunan, ada juga goa dan warung. Kami bertemu dengan seorang pendaki, dan dia berkata bahwa dia beristirahat dalam goa. Wah kesempatan nebeng pikir kami, ternyata sudah penuh dan dia mengusulkan kami untuk menginap di warung (mbok yem bayangan kami menyebutnya) . Setelah kami lihat memang banyak orang menginap di warung itu. Kucoba kubuka pintunya tapi diganjal oleh sesuatu dan andy mencobanya tak bergerak juga. Aku sangat berharap ada orang di dalam dan membukakan kami pintu. Mungkin harapanku akan terkabul seorang wanita tua, sang pemilik warung bangun, dia melirikku karena kepalaku mengintip di sela2 pintu. Kupikir dia akan membuka pintu dan kutunggu lama dia tak berbuat apa-apa dan tidur lagi. Pupus sudah harapanku, kulihat sekilas ada bangunan dan usul menginap di sana. Ternyata di situ ada sesaji, jadi kami gak jadi. Dan bro gudel yang sudah berpengalaman naik gunung mengusulkan cari spot lain daripada gerimis semakin menjadi.
Berjarak beberapa meter dari sendang derajat kami menggelar mantol bagai tikar. Seketika itu juga aku melepas sepatu dan langsung tidur di atasnya disusul andy dan bosgenk. Sedangkan gudel masih mengikat mantol ke pohon untuk dijadikan atap rumah kami sementara. Wuoah thank you bro gudel. Rumah sudah ada kami mencoba tidur di dalamnya kecuali gudel yang masih asyik dengan api dari parafin yang kubawa. Lewat jam 3 ujian baru menghadang gerimis tambah menjadi, semua terbangun, gudel mulai masuk ke dalam rumah, udara makin dingin. Tetes demi tetes air masuk melalui sela-sela mantol, yang membuat kami merasa tambah maknyos kedinginan. Terjadilah kejadian yang takterlupakan. Keram Bosgenk kumat, mulai dari ujung kaki ke betis ke paha kanan ke paha kiri dan akhirnya kram perut, inilah kram seluruh tubuh. Tubuh bosgenk tidak bisa berbohong akan dinginnya di sini walaupun pikirannya tidak merasa dingin. Dalam saat seperti ini hanya gudel yang membantu bosgenk. mentara aku dan andy hanya meringkuk kedinginan. Sepertinya rumah buatan kami ini sudah tidak nyaman dan membuat kami harus berkemas-kemas kecuali aku tetap meringkuk kedinginan. Setelah semua sudah dikemasi termasuk sampah, aku mememegang sepatu dan menyadari bodohnya aku. Aku membiarkan sepatu, kaos kaki, sarung tangan kehujanan. Alhasil semua menjadi basah. Maknyos, begitulah rasanya memakai sepatu yang basah.
Selesai kami berkemas, kami melihat pintu warung terbuka. Masuklah kami ke dalam warung itu. Di dalam warung yang berluas sekitar 25m2 ada 20an orang yang menginap. Warung ini penuh akan jerami yang di atasnya diberi tikar untuk tidur, tanah berbau belerang berwarna kuning, rentengan-rentengan minuman instan berada di jendela dan pintu dari seng yang diganjal batu. Begitu kami masuk, kami kaget akan betapa hangatnya berada di dalam warung ini padahal orang-orang disana masih memakai selimut hangat dan meringkuk dingin. Efek ini akibat kita sudah melewati super dinginnya tidur dalam mantol. Kami beristirahat disini sampai jam 5 pagi. Walau masih hujan rintik-rintik kami melanjutkan menuju puncak sang Lawu demi mengejar sunrise. Kupake mantol jaket cadanganku dan menembus gerimis di pagi hari. Perjalanan menuju puncak melewati jalan setapak yang basah karena hujan dan penuh dengan cacing yang besar-besar. Beberapa puluh meter sebelum mencapai puncak, hujan semakin menjadi-jadi dan membuat kami untuk berteduh. Untungnya ada bangunan dari seng untuk berteduh. Jam 7 pagi disertai rintik-rintik gerimis kami mencapai puncak Hargo Dumilah.
PUNCAK HARGO DUMILAH
Huwooooh puncak akhirnya kami menginjakkan kaki di sini. Walau kami tak bisa melihat sunrise karena hujan dan mendung dan segera kami mengambil foto-foto di sini untuk mengenangnya. Tiba-tiba ada 3 orang menyapa kami dan menawarkan kopi jahe hangat. Ternyata mereka rombongan dari ciputat yang sudah 2 hari ngecamp di puncak ini, salah satunya bernama mas nying-nying. Yah mungkin itu bukan nama asli sih tapi dia berkenalan begitu. Baru beberapa menit menikmati suasana puncak, hujan kembali mengguyur kami. Mas nying-nying dkk menawarkan untuk berteduh di tendanya. Sampai di tenda mereka juga menawari kami makan dan minum. Wuoh walau sedikit malu-malu kucing kami pun melahap nasi, orek, telur, ayam dan banyak lagi. Baik sekali mas-mas ini pikirku, mungkin inilah solidaritas para pendaki,atau mungkin karena mereka kasihan melihat muka kami yang sedikit memelas atau bahkan sangat memelas. Terima Kasih Mas Nying-nying dan kawan-kawan. Hujanpun reda kami menikmati kembali puncak langsung turun kembali ke warung mbok yem bayangan karena teman mas nying-nying bilang itulah warung mbok yem. Sampai di warung kami memesan pecel + teh hangat Cuma 8000 udah ada telornya pula. Selesai makan kami turun lewat jalur cemara kandang, eh ternyata ketika kami sampai di hargo dalem kami melihat ternyata di sinilah warung mbok yem asli. Untuk kenang-kenangan kami memberi tempe goreng di sini, haha untuk cerita anak cucu.

Jalur cemara kandang landai, bercabang-cabang dan agak licin karena hujan. Setelah melewati hargo dalem kami agak bingung dengan jalur pendakian yang benar, tiba-tiba ada jalak gading yang seperti menunjukkan jalan kepada kami. Dia terbang di depan kami dan kadang menunggu kami. Terima kasih jalak gading . Sedikit demi sedikit aku turun, kakiku terasa berat, pikiran sudah ga terkendali. Di pikiran malah seperti terdengar lagu butiran debu hahaha. Tapi lebih hebatnya andy memunguti botol-botol yang dia temukan di perjalanan turun, untuk membersihkan sampah katanya. Pasti dia melihat orang memunguti botol dari kaskus atau blog dan jadi inspirasinya. Perjalanan turun begitu landai walaupun kami kadang menerabas jalan pintas yang licin daripada harus mengambil jalan memutar. Kelihatannya sudah jalan jauh tapi kami hanya turun beberapa meter, kalau kecepatanku turun dihitung-hitung mungkin hanya sekitar 6 mm per second. Sekitar jam setengah 4 sore akhirnya kami sampai di basecamp cemara kandang. TEPARRRR


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

© backpackerindonesia.com