Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

Jelajah Sumatra Selatan

Febri agung pratama
Febri agung pratama, pada 16 Juli 2018, 15.12
di Blog

Wisata Bukit Telunjuk & Misteri Yang Tersimpan Di Dalamnya

Berikut ini juga merupakan cerita jalan-jalan dari salah satu client kami ketika dia berkunjung ke Palembang, Sumatra Selatan.

Bukit Telunjuk Lahat, Sumatera, Indonesia

Dinamakan Bukit Telunjuk, karena bentuk gunung tersebut menyerupai jari yang menunjuk kearah langit. itulah keunikan dari bukit tersebut, selain itu, disekitar bukit mengalir air sungai yang sangat jernih sehingga menambah keindahan alam disekitar bukit.

Bukit Serelo terletak sekitar 20 km dari kota Lahat. Penduduk setempat menyebutnya Bukit Tunjuk (sebagian menyebutnya sebagai gunung Jempol, padahal cuma terlihat seperti bukit, aneh), karena bentuk puncaknya yang mirip telunjuk yang mencuat ke langit.

Jika anda bepergian dari Muara Enim, menjelang 20 km memasuki kota Lahat, bukit itu terlihat jelas di sebelah kiri. Dibawahnya terdapat sebuah kompleks untuk menjinakkan, melatih, dan mendidik gajah. Sekitar 40 ekor sudah dijinakkan di tempat ini, namun baru sebagian yang dapat diandalkan untuk para pengunjung. Anda dapat juga membuat foto dengan gajah-gajah itu. Tinggal berikan tip sebesar Rp. 5.000,- kepada pawang dan anda dapat berpose sepuasnya. Tidak menjadi soal apakah anda akan memotret untuk 1 roll film atau slide. Tetapi jangan lupa memberikan hadiah kepada gajah-gajah itu, berupa gula-gula, kacang dan sebagainya.

Dibeberapa tempat di bawah bukit terdapat beberapa tempat untuk berkemah atau rekreasi. Para pramuka dan anak-anak muda acapkali mengunjungi tempat-tempat itu. Ada sebuah sungai kecil dengan air yang jernih dan belum tercemar yang dapat menyegarkan anda.

Pagar alam sudah terkenal dengan tanaman padi dan tanaman yang lain nya dan gengan air di sawah.

Disini saya dan keluarga makan siang. Sejauh mata memandang, hijau dan ada itik yang mencari makan di lumpur. Sebelum memasuki kawasan ini, kita akan melihat gunung telunjuk yang telah melihat kedatangan kita dari kejauhan. Untuk mengambil gambar ini cukup sulit, karna harus menyebrangi jalan agar hasilnya bagus dan gunungnya terlihat. Tapi kalau dari rumah nenek saya, itu sulit untuk mengambilnya, sedikit buram dan terkadang tampak kurang jelas.

MITOS : ini boleh dibilang aneh tapi nyata. Entah kenapa jarang sekali atau sulit sekali mengambil foto gunung telunjuk atau sering orang lahat bilang gunung jempol mistis nya sekira nya sudah di foto atau sudah pas posisi foto nya kadang suka tidak ada gambarnya di layar handphone atau kamera. Ya boleh percaya boleh ga nama nya juga mitos.

Ada sebuah mitos mengenai bukit telunjuk yang saya dengar dari nenek saya. Dia berkata bahwa untuk mengambil gambar gunung telunjuk tidak semudah mengambil gambar pemandangan alam lainnya. Karena setiap kali mata mengarah ke bidikan kamera, pasti tak berapa lama gambar itu akan hilang gambarnya dari memmory kamera.

Ada orang yang menamai gunung ini dengan sebutan gunung telunjuk, tapi lebih banyakan yang menyebutnya gunung jempol. Dah, nggak usah dipermasalahkan, yang penting keduanya adalah nama-nama jari.

Memasuki kawasan ini tidaklah mudah. Kita harus melewati jurang-jurang di kanan dan kiri jalan. Semakin ke atas, tikungan semakin tajam. Ada beberapa tikungan yang kelokannya 90 derajat. Subhanallah, serasa melewati tikungan kematian walau kita tidak tahu kematian itu kapan datangnya. Kita harus hati-hati melewatinya karena yang kita lewati adalah lereng-lereng gunung yang curam. Seringkali mobil yang kita tumpangi berpapasan dengan mobil orang lain yang hendak menuju Pagar Alam. Ada sensasi mengejutkan dan menakutkan. Disanalah bayang-bayang kematian seolah menari di depan mata, namun Allah ingin memperlihatkan kuasanya dalam keindahan Pagar Alam.

Pagar Alam, kabupaten di Sumatera Selatan yang terkenal dengan alamnya yang indah dan ciri khas dingin cuacanya. Ketika kami mulai memasuki daerah ini, kami sudah disambut dengan udara dingin yang sejuk. Cuaca di Bandung hampir sama dengan dinginnya udara disana. Sayangnya, air di bandung kalah dingin dengan air di Pagar Alam. Bedanya, di Pagar Alam bannyak sekali pohon-pohon yang begitu indah dan asri.

Sedikit cerita rakayat yang saya tau dari nenek saya adalah konon pada suatu hari, di sebuah desa tinggallah seorang ibu dan anak. Ibu dan anak itu hidup dengan miskin. Si anak suka melawan orang tua dan anak itu juga setiap hari hanya ingin makan kalau lauknya ikan. Ibunya pun setiap hari juga pergi ke sungai untuk memancing ikan.

Tapi, lama-kelamaan ikan di sungai itu habis, karena setiap hari selalu ditangkap. Sang ibu pun berkata pada anaknya “anakku, ikan di sungai telah habis. Bagaimana bila kamu tidak usah makan ikan lagi?”. Anak itu pun menjawab “ibu, aku tidak mau makan kalau bukan selain ikan!”. Ibunya pun bingung, dengan tingkah anakanya itu yang hanya mau memakan ikan. Karena bingung ibu itu masuk ke dalam hutan. Dan berkata lah ibu itu di dalam hutan dengan sedih “ya Tuhan, mengapa anakku tidak makan yang lain selain ikan? Sedangkan ikan di sungai itu telah hampir habis. Seandainya aku bisa jadi gunung telunjuk, aku ingin supaya anak ku melihat ku sebagai sebuah gunung”.

Permohonan ibu itu terkabul. Saat itu juga sang ibu menjadi sebuah gunung, dan bentuk gunung itu pun seperti jari telunjuk. Di rumah anak itu pun mencari ibunya kemana-mana, hingga akhirnya dia masuk ke dalam hutan. Dia menemukan sebuah gunung yang berbentuk telunjuk, dan telunjuk itu mengarah kepada anak itu. Anaknya itu pun akhinya sadar bahwa gunung itu adalah ibunya. Karena pada gunung itu ada benda milik ibunya. Anak itu hanya bisa menangis dan berteriak “ibu.. kenapa ibu menjadi sebuah gunung” sambil membenturkan kepala nya ke pohon. Akhirnya anak itu pun mati dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena telah menjadi gunung telunjuk.


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

© backpackerindonesia.com