Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

Tags

Di Ujung genteng

kingsistina
kingsistina, pada 2 Mei 2012, 21.05
di Blog

Terpaut jarak puluhan km, Ujung genteng adalah destinasi menantang untuk menjadi pilihan berlibur bagi pecinta wisata alam (laut). Nama itu begitu menggaung, bukan dari promosi gencar dari pemerintah setempat melainkan dari informasi pejalan yang telah menyambanginya. Sayapun mendengar nama Ujung genteng karena senang melakukan traveling ala backpacker, selain lebih murah saya sangat menyukai dan menikmati perjalanan yang sedikit berunsur alami. Saya berangkat dari Jakarta dengan bus menuju kota Bogor dan bertanya sana sini untuk bisa sampai di desa Ujung genteng. Dari Bogor kemudian menaiki bisa tujuan pelabuhan ratu, saya menyebutnya "The Queen Harbor" karena hari jumat itu sang pangeran Inggris sedang melangsungkan pernikahan yang di tonton jutaan pasang mata di seluruh dunia. Tapi saya hanya mendengarkan saja informasinya dari radio kesayangan saya yang hemat energi. Cukup memutar tuasnya ketika suara radio menjadi semakin kecil dan tak bersuara, sekalian olahraga jari jemari tangan.

Ujung genteng bukan satu-satunya desa di tepian garis pantai selatan pulau jawa. Di banding pelabuhan ratu atau the queen harbor (maksa bangettt...), Ujung genteng rasanya memang kurang populer tapi justru itulah karena kurang populer saya mencoba menyambanginya. Dari kota Bogor bisa di tempuh melalui dua pilihan jalan raya untuk bisa sampai di ujung genteng, pertama menggunakan jalur Bogor - Sukabumi - Surade - Ujung genteng. Saya memilih jalur lain karena saya terlambat tiba di Bogor dari Jakarta. Jalur ini sangat mudah bagi pejalan yang menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Dari Bogor menuju arah pelabuhan ratu kemudian turun di Cikembang, sebuah petigaan jalan yang akan menghubungkan jalan raya menuju pasar Panggaleseran dan terminal Lembur situ. Sesuai arahan dari kondektur bus, dari Cikembang saya turun di terminal Lembur situ. Terminalnya kecil dan sederhana, tapi terbilang cukup rapih dan terdapat ATM, Kantor pos, dan beberapa toko makanan dan warung makan yang bisa di jumpai untuk sekedar membeli perbekalan di perjalanan.

Hari sudah menjelang siang saat saya tiba di terminal Lembur situ, sebenarnyan sejak jam 4 subuh sudah ada mini bus yang bisa membawa kita menuju desa Surade. Batas akhir dari sebuah petualangan mini bis jurusan Sukabumi - Surade. Sengaja saya tidak memilih bus pertama karena sebelumnya saya menghabis malam bersama seorang tukang kopi di pertigaan Cibadak. Kami bercerita sangat akrab, mengenai berbagai hal. Menurutnya, saya termasuk berani sekali mau melakukan perjalanan sendiri menuju Ujung genteng. Selain jaraknya yang jauh, masih menurut sang tukang kopi kondisi jalanan yang tidak bersahabat dan sunyi membuat saya sedikit merasakan ketakutan. Jadi alasan itulah yang membuat saya memilih bus yang ke 3 untuk menuju desa Surade. Karena perjalanan nya yang akan memakan waktu sekitar 6 jam dan saya mencoba memperhitungkan waktu yang harus saya tempuh agar tiba di desa Surade tidak terlalu siang.

Mini bus berjalan meninggalkan terminal Lembur situ dengan membawa sekitar 6 penumpang yang belum tentu akan semuanya turun di terminal akhir desa Surade. Saya tidak takut dan khawatir seperti tadi malam saat bercerita dengan bapak tukang kopi di Cibadak, saya merasa percaya diri saja dan mencoba menikmatinya. Lima berlas menit setelah bus melaju saya tertidur walaupun kondisi jalan tidak semulus jalan aspal di jakarta. Bahkan menurut saya, jauh lebih parah ketimbang jalan menuju ke Ujung kulon. Tapi mata saya sangat lelah dan belum terpejam dari semalam, perut laparpun tidak di hiraukan lagi yang penting bisa memejamkan mata sesaat. Saya masih mendengar suara teriakan sang kondektur mini bus menyebutkan satu persatu nama desa yang kami lewati, tapi mata saya tetap terpejam.

Matahari sudah semakin meninggi, dan rasa hangat semakin terasa setelah semalam di balut hawa dingin khas pegunungan. Saya mencoba membuka mata dan menikmati keluar jendela bus dan terhampar luas perkebunan teh dan hutan karet, juga hijaunya bukit-bukit yang menggunung sepanjang lintasan. Rasa sakit karena guncangan bus yang melaju di jalan off road tidak lagi saya hiraukan, mata saya tetap menikmati alam gunung yang saya rindukan. Benar-benar bisa membuat saya merasakan kembali sebuah keindahan alam pegunungan dengan kehijauan yang alami.

Desa Surade semakin dekat, setelah melewati desa Jampang tengah, Jampang Kulon kemudian Surade. Perjalanan mini bus satu jam lebih awal dari yang saya perkirakan. Penumpang bus yang tersisa hingga desa Surade hanya dua orang penumpang saja selain supir bus dan kondektur. Aku melompat turun dari bus dan berpindah ke sebuah angkutan kecil berwarna merah untuk terus menuju desa Ujung genteng. Di dalam angkot itupun lagi-lagi saya seorang saja yang mengawali perjalanan panjang yang akan di tempuh sekitar 1 jam hingga titik akhir. Sepanjang perjalanan saya berusaha bercengkrama dengan pak supir yang bernama Pak Zimat. Dia langsung menebak saya dari Bandung karena saya berbicara dengan menggunakan bahasa sunda yang jujur masih haris di translate dulu sebelum saya berbicara. Jadi seorang traveler kayaknya memang harus belajar bahasa setempat untuk memudahkan percakapan dengan warga lokal. Tapi saya sanggah tuduhan pak Zimat itu, "Saya bukan dari Bandung Kang..dan saya bukan Mahasiswa" begitu sanggahan saya dalam bahasa sunda yang sudah di terjemahkan sebelumnya. "Saya dari Jakarta, lagi main aja sendiri ingin berlibur" tambah saya.

Angkutan merah itu semakin menjauh membelah pedesaan dengan kondisi jalan yang lebih buruh daripada arah sebelum tiba di Surade. Guncangan-guncangan dalam angkutan sangat kencang membuat badan kendaraan seperti seorang petinju yang terhuyung karena terkena hantaman lawan. Satu, dua penumpang naik turun di sepanjang jalan menuju desa Ujung genteng. Pak Zimat terus berusaha mengajak saya berbincang padahal saya harus keras berpikir untuk menerjemahkan setiap kalimat yang dia ucapkan sebelum saya menjawabnya. Sungguh perjalanan yang sangat menyenangkan, selain menikmati pemandangan desa saya juga belajar bahasa daerah setempat secara langsung. Saya memahami apa yang dia ucapkan di setiap kalimatnya, tapi untuk membalasnya dalam bahasa sunda saya harus berusaha menerjemahkan dulu.

Garis pantai mulai terlihat setelah melewati guncangan-guncangan hebat. Rasa penat yang terpendam perlahan tapi pasti menjadi sirna. Semua keletihan itu terbayar oleh putihnya buih ombak di garis pantai desa Ujung genteng.

Getting there:

Jakarta - Bogor dengan bus AC Agra mas dengan tiket one way Rp.11.500
Bogor - Cikembang dengan bus AC MGI (jurusan Pelabuhan ratu) dengan tiket one way Rp.13.000
Cikembang - Lembur situ (angkot) dengan tiket one way Rp.3.000
Lembur situ - Surade (Mini bus) dengan tiket one way Rp.20.000
Surade - Ujung genteng (angkot) dengan tiket one way Rp.5.000

sebelum menaiki bus atau angkutan sebaiknya tanyakan dulu tujuan akhir kita, untuk memastikan kebenarannya.

where to stay:

Untuk penginapan di Ujung genteng, terdapat banyak pilihan, ada penginapan pondok adi, penginapan mama losmen, penginapan hexa dan sebagainya. Harga penginapan bisa di tawar. Jika malas repot, penginapan juga menyediakan makanan dengan selera masakan khas pesisir.

what to do:

Melihat pelepasan penyu hijau di pantai Pangumbahan, menikmati sunset di pantai yang berpasir putih, atau sekedar bermain di air laut yang dangkal bersama keluarga. Bisa juga menyewa perahu nalayan untuk menikmati sisi lain dari pantai ujung genteng.

Selamat berlibur


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

© backpackerindonesia.com