Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

Hiking ke Gunung Andong, Desa Ngablak Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

Nintia Isath Fidiarani
Nintia Isath Fidiarani, pada 2 Okt. 2014, 6.11
di Blog

Dimulai dari percakapan pekerja yang penat dengan segala aktivitasnya, dan menginginkan udara segar untuk sekedar refreshing. :beer: Karena kendala libur kerja hanya hari Minggu, maka ditarik keputusan untuk traveling ke tempat yang tidak jauh dari rumah atau tempat tinggal. Fyi, kami tinggal di daerah Ungaran, yaitu kabupaten Semarang. Lalu kami mencari tempat yang belum pernah kita singgahi yang tentunya tidak jauh dari rumah dan dapat menekan budget seminim-minimnya :bigsmile: . setelah usul dan usul, diputuskan untuk hiking ke gunung andong, yaitu gunung yang tidak terlalu tinggi, hanya 1762 mdpl, yang dapat ditempuh kurang lebih 2 jam dengan jalan kaki dari basecamp utama. letak gunung ini tepat di samping gunung telomoyo, yakni tidak jauh dari gunung merapi dan gunung merbabu. :keren:

2 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor dari ungaran, akhirnya sampai juga di basecamp gunung andong. Kami ber-delapan, dengan 4 orang cewek dan 4 orang cowok, jumlah kami seimbang, kami berangkat dengan total 4 motor. Terdapat lahan parkir yaitu di halaman basecamp, seperti layaknya basecamp gunung-gunung lain yang menyediakan tempat untuk beristirahat dan ada toilet yang memfasilitasi para penggiat alam yang akan naik gunung andong tersebut. :jempol:

Sesampainya di basecamp, kami takjub karena banyak sekali yang sudah sampai duluan, jumlah orang yang akan melakukan pendakian di luar perkiraan kami, dari anak-anak sampai orang tua bersiap untuk melakukan pendakian. mungkin ini dikarenakan jalur pendakian yang aman dan tidak menempuh banyak waktu untuk sampai ke puncak.

kami membayar retribusi sejumlah 34ribu sudah include 8 perserta dan 4 motor, tidak tahu bagaimana perhitungannya, hehe.. :D
kami mulai mendaki yaitu sore sekitar pukul 6 sore yaitu setelah maghrib. perjalanan pendakian dimulai dengan berdoa terlebih dahulu 0:) . Selama perjalanan tidak banyak ditemukan kendala yang berarti, jalan setapakpun bersih tidak banyak sampah, mungkin ada patroli untuk kebersihan gunung andong sendiri.

Jika para pendaki berangkat malam hari, tidak lain tidak bukan yaitu untuk mendirikan tenda di puncak gunung dan bermalam sampai menemui sunrise, yak! yang kita bidik adalah sunrise di minggu pagi.

Setelah dua jam berjalan, tepat jam 8 malam kita sampai puncak. Menurut saya, puncak andong sendiri memanjang, yang pertama kita akan menjumpai gubug bangunan yang terdapat satu makam sesepuh kata orang sekitar. Berjalan ke arah kanan kita akan menemui puncak pertama, lalu melewati punggung sapi kata kebanyakan orang lalu akan berjumpa puncak kedua, di puncak kedua ini lahan lebih sempit dan tidak rata, dan ada punggung sapi lagi sampai ke puncak ketiga. Ternyata di puncak ketiga ini lahan lebih sempit dan lebih tidak rata dari puncak-puncak sebelumnya, lalu kami memutuskan untuk balik arah ke puncak kedua, dan alhasil kita mendapatkan tempat yang cukup lebar dan cukup rata :party: tanpa berfikir panjang kami langsung mendirikan tenda, tenda yang kami dirikan berjumlah dua dengan masing-masing kapasitas 4 orang, dan kami membagi diri untuk tenda cewek dan tenda cowok. :exmark:

Tenda sejajar dengan lainnya menghadap gunung merbabu dan merapi dan jika menengok ke arah kiri akan berjumpa dengan sunrise. Hari itu di bulan kemarau yaitu September, angin bertiup tidak terlalu kencang namun suhu pada saat itu sangat dingin, sampai kami membuat api unggun di depan tenda kami. Dengan angin yang ada dan rerumputan yang sedikit, sungguh sulit untuk membuat api unggun yang lama menyala walaupun kita sudah menyiapkan solar dan spirtus untuk memancing api agar menyala besar.
Namun apa daya, api menyala besar lalu cepat sekali meredup, begitu terus sampai bahan bakar habis. :adem:

Kami membuat dapur kecil di belakang tenda untuk memasak air. Untung aja kompor yang kami bawa adalah kompor berbentuk mawar, jadi yang sekaligus ada penutupnya pada bagian api sehingga tidak mudah padam karena angin yang meniup.
malam hari kami membuat nasi yang dibungkus plastik, kami sengaja membawa beras dari rumah untuk di masak disana. kami membawa sambal kacang dan sayur-sayuran sebagai kudapannya. Ada yang membawa tahu bacem dan kripik lainnya sebagai tambahan untuk makan malam kami. Semua terasa menyenangkan, letih dan kedinginan tertutupi dengan makan enak dan kenyang serta cerita dan tawa sepanjang malam. :gaya:

Setelah makan malam sudah ludes tanpa sisa, kami memasak air panas untuk membuat kopi dan teh manis. Lalu kami duduk melingkar sambil bercerita dan menatap langit yang terdapat milyaran bintang dan sesekali ada bintang jatuh dan kami mulai menghitung dan membuat permintaan, ala ala mitos begitu, hehehe :aselole:

Jam menunjukkan pukul 12 malam, suhu semakin dingin dan kami tidak kuat lagi untuk terus lama di luar tenda, lalu kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda untuk mendapatkan suhu yang lebih hangat dan sekaligus istirahat untuk menjelang subuh menanti sunrise hari minggu pagi. :love:

Tidur kami tidak cukup lelap, sesekali terbangun karena angin dingin yang menusuk tulang kami. Sampai pada akhirnya jam 4 pagi sudah ramai dan riuh untuk membangunkan yang masih di dalam tenda, untuk menyaksikan sunrise. Sebenarnya untuk jam segitu masih terlalu pagi untuk menanti sunrise, maka sebagian kami ada yang memasak air untuk sarapan dan juga untuk membuat minuman hangat. Lalu duduk berdampingan de depan tenda menatap ke arah sunrise, dengan menahan hawa dingin yang semakin dingin menjelang subuh. :nikmat:

Saatnya pukul 5.30 pagi voilaaaaaaaaa, matahari mulai muncul perlahan, dan seperti biasanya, orang-orang sibuk dengan dokumentasinya masing-masing karena proses matahari terbit itu cepat sekali maka kami saling berburu foto untuk mengabadikan tiadp detik sunrise sampai matahari muncul sempurna. :aselole:

Menurut saya pribadi, sunrise di puncak gunung andong tidak kalah menarik dengan di bromo atau bukit sikunir. Segala sunrise itu bagus ketika tidak ada awan gelap di ujung garis horison, dan pada saat itu kami termasuk beruntung, karena tidak ada awan gelap yang menghalangi jalannya matahari terbit. Luarrr biasaaaaaa, kami menyaksikan terbitnya matahari tepat dari ujung garis horison. :akhirnya:

Setelah, matahari terbit sempurna saatnya kami mengabadikan diri kita masing-masing di landmark puncak gunung andong. Ada yang berfoto dengan background gunung merbabu dan gunung merapi ada juga yang berfoto dengan tenda masing-masing, juga ada yang berfoto dengan peserta lainnya. Ada pula yang sibuk dengan sarapan dan menyeduh minuman hangat.

Sambil merapikan tenda dan puas atas foto-fotonya, kami turun dari puncak start pukul 8 pagi. Namun ternyata perjalanan turun lebih cepat satu jam dibanding saat mendaki. Berarti jam 9 kita sudah sampai di basecamp lagi lalu istirahat sebentar sambil bersih-bersih lalu perjalanan pulang ke rumah masing-masing. 8)

Perjalanan yang singkat dan dengan keputusan yang cepat itu akan lebih berhasil dan tentunya menyenangkan dibanding perjalanan yang lama dijadwalkan namun menemui banyak kendala ketika sampai di hari H. :victory:

Sekian dari cerita perjalanan saya dan teman-teman ke gunung andong. mungkin ada referensi positif yang bisa diambil dari tulisan saya ini. yang kurang berkenan harap dimaafkan.

ciayoooooo ^^ :bye:


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

Malang
Malang
Malang Super Hero
pd. 7 Okt. 2014, 15.56

Suka 0
Nintia Isath Fidiarani
Nintia Isath Fidiarani
Nintia Isath Fidiarani Newbie
pd. 6 Okt. 2014, 15.54

belum-belum, ceritanya belum tuntas. tapi ter-update malahan, hee :kecewa:

Suka 0
sunawang
sunawang
sunawang Pro.
pd. 5 Okt. 2014, 21.11

kok gak ada fotonya :bingung:

Suka 0

© backpackerindonesia.com