Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

Apa kabar Jambore Semeru?

Ferza Febrian
Ferza Febrian, pada 19 Nov. 2012, 6.36
di Blog

Banyak kalangan kelompok pecinta alam maupun individu tertentu yg beberapa minggu ini heboh bicarain acara #JamboreSemeru.

Kenapa heboh?

Jadi gini,

#JamboreSemeru itu acara yg diprakarsai oleh salah satu perusahaan alat-alat outdoor ternama di Indonesia. Konsep utama yg digembar-gembor dari awal adalah jambore pecinta alam dan aksi bersih. Yang menjadi nilai jual juga karena acara jambore ini dilaksanakan di TNBTS tepatnya di Gunung Semeru. Siapa yg ngga kenal Semeru? Tambah lagi, Gunung Semeru menjadi latar di salah satu novel dan bahkan bulan depan sudah difilmkan. Semerupun semakin menarik sekarang.

Gue salah satu orang yg tertarik buat ikut acara ini sebelumnya, tapi entah kenapa setelah gue tau bahwa harus bayar Rp 200.000 (yg bagi gue mahal dibanding jalur independent) yaudah gue memutuskan ngga ikut. Gue ngga ikut tapi gue tetap "ninggalin" kuping gue di ni acara.

Mendekati hari pelaksanaan gue mulai denger kekisruhan ni acara. Dari info di Pos Registrasi Ranu Pani bahwa jumlah peserta jambore ini tembus di angka 1697 orang! Buat orang awam mungkin ini suatu kemajuan minat, kepedulian dan pariwisata gunung Indonesia.

Tapi........... Tunggu dulu.

Kita tela'ah dulu dari kapasitas TNBTS itu sendiri. Bahwa menurut pos Ranu Pani kapasitas pendakian ke Gunung Semeru adalah 600 orang. Jelas masalahnya dimana? Ya! Semeru was overcapacity..........
Bisa dibayangkan, terakhir gue kesana awal bulan September di Ranu Kumbolo ada sekitar 80an orang. Itu udah terasa rame dan padat. Terasa kesunyian Ranu Kumbolo bisa dinikmati pada jam 20:00 itu juga harus melawan dingin yg menusuk. Nah, ini gimana dengan 1697 orang?? Hah?!
Selanjutnya, adalah faktor keselamatan. Saya berpendapat bahwa ngga semua peserta jambore ini adalah mereka yg sudah ke Semeru atau bahkan mereka yg udah pernah naik gunung. Masih banyak pemula. Pemula yg belom ngerti jalur. Pemula yg belum ngerti pengaturan logistik. Apalagi pemula yg belum ngerti ilmu survival. Ini adalah masalah yg hampir pasti terjadi jika mengadakan acara dengan skala besar. Dalam hal ini, panitia terkesan mengabaikan risiko ini, bayangkan saja di setiap 180 orang hanya terdapat 5 panitia. Berarti setiap panitia bertanggung jawab pada 36 peserta (yg belum tentu dia aware dan hafal siapa aja peserta yg menjadi tanggung jawabnya). Huh...

Yg sudah jelas menjadi fokus utama adalah dari sisi alam, kebersihan dan keberlangsungan hayati. Mmmm.... Oke konsep acara ini adalah aksi bersih. Tapi masa iya peserta baru diberi trashbag pada saat di Pos Jambangan. Tapi masa iya ada panitia yg liat peserta buang sampah di hadapannya cuma diem aja?!

Kita semua menyadari bahwa Gunung Semeru adalah gunung suci. Dimana kita harus bertindak sewajarnya dan menjaga kebersihannya. Ranu Kumbolo adalah danau "surga" para pendaki. Disana kita dapat beristirahat menikmati keindahan danau dan topografi sekitar. Semeru sudah meronta-ronta meminta kita memanjakannya seperti dulu. Semeru ngga perlu dikunjungi oleh banyak orang.

Di Semeru bukan tempat untuk bermain. Tapi tempat untuk melatih diri untuk melawan diri sendiri. Melawan ego. Melawan keserakahan. Sekarang, kita ngga bisa lagi berharap siapa yg akan menjaga Semeru kalo bukan kita. Sudah ngga ada waktu lagi, udah seharusnya kita sadar bahwa diri sendiri adalah awal untuk menjaga.

Terakhir, apakah kita mau anak cucu kita merasakan pasir menuju Mahameru?


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

© backpackerindonesia.com