Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

Dataran Tinggi Dieng, Sebuah Negeri di Atas Awan

TikaSylvia
TikaSylvia, pada 14 Des. 2012, 6.59
di Blog

Dataran Tinggi Dieng, Sebuah Negeri di Atas Awan
Catatan perjalanan---->>> www.Tikasylviautami.blogspot.com

“Tapi yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: Sebuah rumah yang sesungguhnya, yang membuat kita tak akan merasa asing
meski berada di tempat asing sekalipun...
Because travelers never think that they are foreigners.”
–Windy Ariestanty, Life Traveler-

Cuplikan kalimat di atas, rasanya tepat untuk mengungkapkan tentang perjalanan (14/11) lalu menuju Dataran Tinggi Dieng. Merasa asing di tengah kawasan yang belum pernah dikunjungi, bersama sekitar 40 orang lainnya yang tidak kalah asing. Hingga catatan perjalanan ini ditulis, akhirnya saya memahami: because travelers never think that they are foreigners. So, let’s find out about our new journey with a new team at a new place. Ini dia, penyusuran tentang eksotismenya Dieng. Enjoy our trip...

Perjalanan yang ditempuh hampir 13 jam itu rasanya bikin pegal seluruh badan. Bukan hanya karena lamanya perjalanan, tapi juga posisi tempat duduk di kendaraan (elf) yang mesti cermat untuk menciptakan posisi nyaman masing-masing. Berangkat sekitar pukul 10.00 malam (13/11) membuat rombongan yang terdiri dari 3 elf itu baru tiba di Wonosobo dini hari. Hamparan sawah ditambah pepohonan hijau sepanjang perjalanan adalah amunisi terhebat untuk mengenyahkan semua faktisitas dan kelelahan yang melekat.

Tak sempat sarapan di Tieng karena hari sudah terlalu siang, akhirnya rumah makan di pinggir jalan pun menjadi pilihan. Well, padahal Tieng yang juga dikenal dengan sebutan Gardu Pandang Tieng ini tempat yang nggak kalah asyik. Lokasi yang letaknya berada di sebelah kanan jalan, sebelum memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng ini bisa jadi pilihan yang seru untuk tempat untuk melepas lelah. Berada di ketinggian 1.789 meter di atas permukaan laut, membuat pengunjung bisa menikmati pemandangan alam Dieng dengan latar belakang Gunung Sindoro dan hamparan awan yang membentang.

Mengawali Dieng dari Mata Air Abadi Tuk Bimo Lukar
Dataran tinggi Dieng dengan pesonanya yang kian tersimpan itu, selalu punya kekhasan tersendiri untuk membuat banyak kalangan singgah sejenak di kawasan yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Mata Air Abadi yang juga dikenal dengan sebutan Tuk Bimo Lukar menjadi destinasi awal untuk memulai perjalanan hari itu. Dilengkapi dengan pancuran air yang masih bisa digunakan, sumber mata air ini adalah hulu dari Sungai Serayu. Konon, mencuci muka atau sekadar membasuh tangan di mata air ini adalah salah satu tradisi untuk memulai perjalanan di kawasan dieng.

Terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, tepatnya di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, sekitar 122 km dari Yogyakarta dan 120 km dari Semarang. Dieng memang memiliki candi-candi kecil kuno yang indah dan terhampar di Kawasan dataran tinggi. Ada banyak candi bercorak hindu dengan arsitektur yang indah dan unik. Beberapa candi diberi nama seperti tokoh-tokoh cerita Mahabrata, seperti Bima, Gatot Kaca, Arjuna dan Srikandi.

Nama Dieng berasal dari bahasa Kawi, yakni ‘di’ yang berarti gunung, dan ‘Hyang’ yang berarti Dewa. Ini juga yang membuat Dieng dikenal dengan sebutan pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Singgah sejenak untuk menikmati teduhnya suasana di Telaga Warna menjadi destinasi selanjutnya yang dipilih. Uniknya, di Telaga warna ini, permukaan airnya bisa mengalami perubahan warna yang mengikuti cahaya matahari, terkadang berubah menjadi warna biru, hijau bahkan kekuning-kuningan. Jelajah dan trekking pun dilanjutkan, tidak jauh dari Telaga Warna, ditemukan beberapa goa, seperti Goa Semar, Goa Jaran dan Goa Sumur. Setelah mengitari telaga warna dan menyusuri Goa, Dieng Plateau Theatre menjadi tempat yang nyaman untuk melepas lelah sambil menonton film dokumenter tentang kawasan Dieng

Menanti Sang Fajar di Puncak Sikunir

Dataran Tinggi Dieng terhampar di ketinggian sekitar 2.093 meter di atas permukaan laut, hingga tak heran lokasi ini disebut-sebut sebagai negeri di atas awan. Udara sejuk dan menyegarkan terasa semakin menakjubkan dengan kabut putih tebal yang menutupinya. Belum lengkap rasanya singgah di Dieng tanpa menyaksikan langsung golden sunrise di Puncak Sikunir yang berada di ketinggian 2.263 meter. Warna keemasan yang berpadu dengan arak-arakkan awan dan kabut putih ketika sang matahari keluar dari peraduannya menjadi pemandangan yang memukau saat terbit fajar.

Setelah turun dari Puncak Sikunir, jangan lewatkan keindahan Telaga Cebong yang terletak di Desa Sembungan, sebuah desa yang terletak di Kawasan Dieng dan merupakan desa tertinggi di Jawa Tengah.

Mungkin tak banyak yang menyangka bahwa Dataran Tinggi Dieng yang berada di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini masih termasuk kawasan vulkanik. Well, hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya kepundan kawah yang ada di sekitarnya. Ada banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. beberapa diantaraanya juga merupakan kawah yang masih aktif, seperti Kawah Candradimuka, Sibanteng, Siglagah, Sikendang, Sikidang.

Kawah Sikidang banyak dikunjungi, karena merupakan lokasi yang tidak terlalu sulit untuk dijangkau. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung lubang keluarnya gas yang selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Karakter inilah yang membuat penduduk setempat menyebutnya seperti sesuatu yang berpindah-pindah seperti kijang (kidang dalam bahasa Jawa).

Ingin merasakan sensasi naik perahu sambil mengelilingi telaga yang dikelilingi lembah gunung? Hm, Telaga Menjer bisa jadi pilihan yang tepat. Telaga yang dikelilingi pemandangan Gunung Sindoro ini terlihat cantik berpadu dengan memantulnya cahaya matahari pada air telaga, hingga mampu menciptakan komposisi pemandangan yang memukau mata. Jarak tempuh perahu yang mengeliling telaga sekitar 30 menit rupanya mampu memanjakan mata dengan indahnya pemandangan di sekeliling.

Siapa bilang akses menuju Dieng itu sulit? Bus yang beroperasi dengan trayek Jakarta-Wonosobo bisa ditemukan dengan mudah dari terminal kampung rambutan dan terminal lebak bulus. Setelah, itu perjalanan bisa dilanjutkan dengan naik angkot dengan trayek wonosobo-dieng. Pengunjung juga bisa memanfaatkan rumah-rumah warga yang sebagian besar sudah diubah menjadi homestay sederhana namun cukup nyaman dengan harga relatif murah.

Intermezzo Perjalanan
Mungkin benar, sebuah ‘perjalanan baru’ akan mempertemukan kita dengan banyak hal baru di sekeliling. Bukan hanya tempat baru, teman baru, tapi juga semangat baru. Bertemu dengan sekitar 40 orang lainnya. Terimakasih untuk Team Greenventour (Trias, Ardhi, Rury dan Mas Aji) for a great trip, kadang-kadang kasihan juga sih ngeliat mereka capek ngurusin 40 orang ini plus merangkap jadi tukang jepret mendadak. hehehe... Untuk teman-teman di satu elf (Eva, Cipi, Ai, Bongki, Wahe, Thea, Chandra, Om Sukarman dan Tante Kikin) nice to see you all... Special for roommate (Dian, Stefi) wuihiiii, ketemu banyak kakak-kakak yang berpengalaman di bidang jalan-jalan *berasa paling muda* hihihi... Kakak beradik (Meisa dan Reza) + Mas Andre, ditunggu upload foto-fotonya ya... Then, for Icha, Intan, Heldha, Fithriani, Surya, Hendra, Rezka, Ita, Mira, Apri, Rena, Marina, Marlindia, Diah, Widya, Asty, Andy, Isnaeni, Pian, Ira, Ditha, dan semua lainnya yang nggak kesebut. Hope to see you all on another trip.

Ini... adalah bait peninggalan yang tersisa dari perjalanan Dieng, 14-16 Oktober ’12 lalu.
Enjoy to see you all in this trip, hope to see you again someday...

Kabut yang datang pelan-pelan, menyelinap di setiap celah,
menyisakan rantaian kisah perjalanan...
bergelayutan pada lembah yang tak pernah lelah menopang.
Sementara langit senja kemerahan sore tadi,
menenggelamkan sang matahari yang perlahan tenggelam di balik peraduan.
...
Bebukitan yang tertutup awan kian menyemai dingin
sementara kita berlindung di balik gunung,
tempat Hyang Dewa beranjak masuk.
...
Lembah yang menyilang diantara bebukitan Dieng,
tengah menaungi celah hati yang dulu pernah berkawan dengan malam.
Asap putih menyelusup di sela-sela matahari yang mulai beranjak dari peraduannya.
Beranjak pelan-pelan, meninggalkan Dieng sore itu,
dengan kabut yang selalu setia bersanding dengan Sang Gunung

-Dieng, 16 Oktober ’12-


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

tabah
tabah
tabah Newbie
pd. 7 Juni 2013, 8.44

saya ada rencana ke dieng sama temen2 pake motor biar bs nikmati keindahan alam.. and sekalian touring.thanks infonya

Suka 0
TEBE TIBI
TEBE TIBI
TEBE TIBI Sr.
pd. 18 Jan. 2013, 11.04

waktu ke dieng ujan plus kabut ... dan cuma sempet ke candi ama kawah nya doank .... uda buru buru mau balik .. soalnya ngikutin rombongan orang orang yang ga bisa lama lama nikmatin alam ... ga adventurer gitu dech :pusing: .. pokoknya harus ke dieng lagi lah .... thanks yak referensi nya .. kumplit plit plit buangeeeet... mantaaaap :akhirnya:

Suka 0
PengembaraTanpaPeta
PengembaraTanpaPeta
PengembaraTanpaPeta Newbie
pd. 7 Jan. 2013, 11.06

masih inget ketika menyusuri jalan ke dieng sambil di kawal oleh kabut di kiri dan kanan jalanan :aselole:

Suka 0
rini elisabet
rini elisabet
rini elisabet Newbie
pd. 2 Jan. 2013, 16.04

W.O.W....
:O
pengen

Suka 0
indriana ratna
indriana ratna
indriana ratna Sr.
pd. 31 Des. 2012, 8.14

29-30 Des'12 saya ga nemuin awannya......hanya sunrisenya aja di Sikunir :)

Suka 0

© backpackerindonesia.com