Trending

Tanya & Jawab

Blog

Galeri

Teman jalan

Tour & Travel

Tujuan Wisata

Jalan Iseng Ke Bali

rendy26
rendy26, pada 11 Nov. 2013, 17.20
di Tanya & Jawab

Pertama kali mendengar kata Bali, apa yang kalian pikirkan? Tentunya pantai dan segala kesenangan yang ada disana. Yap, Bali merupakan destinasi wisata favorit para turis baik lokal ataupun asing. Bali juga merupakan surga para penikmat pantai karena banyaknya pantai yang ada di pulau tersebut. Disana juga banyak terdapat event internasional. Salah satunya event internasional yang menyorot mata dunia yaitu ajang pemilihan putri kecantikan atau Miss World 2013. Pemilihan ajang tersebut diadakan di Bali karena Bali mempunyai segala keelokan yang tidak dipunyai daerah lain dan tentunya Bali sudah terkenal di manca negara dengan segala keindahannya. Daya tariknya yang begitu luar biasa itu lah menjadikan Bali sebagai destinasi wisata wajib dikunjungi bagi saya. Dari dulu saya bercita-cita ingin pergi ke Bali karena disana lah tempat wisata yang lengkap bagi saya. Ada wisata pantai, wisata pegunungan, wisata religi dan tentunya wisata belanja. Wisata pantai menawarkan pantai-pantai yang eksotis seperti pantai kuta, sanur, jimbaran, dreamland, padang-padang dan lain-lainnya yang tidak bisa disebutkan semuanya. Wisata pegunungan bisa juga di Bali. Disana terdapat gunung Agung dan gunung Batur yang terkenal. Para penyuka wisata pegunungan ini bisa melakukan aktivitas seperti trekking ataupun mendaki gunung yang membuat pengalaman tak terlupakan. Wisata religi juga bisa di Bali. Banyak tempat ibadah berada di tempat eksotis dan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Diantaranya pura agung ulun danu di daerah Bedugul, pura di Uluwatu, pura Besakih dan lainnya. Terakhir yaitu wisata belanja. Banyak sekali toko-toko branded terkemuka berada di Bali sehingga menjadikan Bali sebagai surga belanja bagi para pelancong.

Terkait cita-cita saya yang ingin sekali ke Bali diwujudkan dengan mendadak. Saya katakan mendadak karena saya tidak membuat rencana perjalanan kapan ingin kesana. Saya cuma tahu kalau ada long weekend di awal bulan November 2013. Ketika itu pacar saya sedang ada kegiatan kampus mulai tanggal 1 November 2013 sampai 3 November 2013, tiba-tiba saya berpikiran mengajak dia pergi ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran setelah ujian tengah semester. Saya mengajak dia pergi pada hari senin tanggal 4 November 2013. Saat itu saya memutuskan untuk pergi ke Semarang karena saya belum pernah kesana dan Semarang lumayan dekat dari tempat kuliah saya dan pacar saya di Purwokerto. Setelah saya pertimbangkan masak-masak saya dan pacar saya tidak jadi pergi ke Semarang dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bali. Ini sangat mendadak. Esok harinya saya dan pacar saya segera ke stasiun Purwokerto untuk memesan tiket kereta jurusan Jogja dan jurusan Banyuwangi. Mengapa saya memesan tiket kereta dua jurusan? Karena kereta dari Purwokerto tidak ada yang langsung ke arah Banyuwangi. Kereta ke Banyuwangi cuma bisa dari Jogja atau Surabaya. Jogja atau Surabaya merupakan stasiun awal keberangkatan kereta ke Banyuwangi. Lalu untuk pulangnya saya memesan tiket kereta jurusan Banyuwangi - Surabaya dan Surabaya - Purwokerto. Sesampainya di stasiun saya harus mengantre selama 2 jam untuk membeli tiket. Antrean yang panjang dan petugas loket yang kurang cekatan membuat waktu terbuang percuma hanya untuk membeli tiket. Tetapi hal itu sangat maklum bagi saya karena pembelian tiket kereta api sudah sangat mudah, bisa dibeli di agen-agen yang bekerja sama dengan kereta api.

Hari yang di nanti pun tiba. Hari pertama tanggal 4 November 2013 saya dan pacar saya berangkat dari Purwokerto jam set 4 pagi naik kereta api Progo jurusan Pasar Senen - Lempuyangan. Sampai di Lempuyangan jam setengah 7 pagi. Setiba di stasiun Lempuyangan, Jogja saya dan pacar saya langsung mencari makan untuk sarapan. Mengingat perjalanan nanti bakal panjang dan melelahkan maka saya dan pacar saya harus sarapan. Saya memesan nasi krecek dan pacar saya memesan mie rebus. Pacar saya memang unik, dia doyan makan mie instan. Dimanapun berada, selalu disempatkan makan mie instan. Setelah pesanan kami datang, kereta api Sri Tanjung pun datang. "Itu kereta kita" sahut saya kepada pacar saya. Kita pun makan dengan lahap dan segera menghabiskan agar tidak tertinggal kereta. Setelah sarapan kami bergegas ke kereta dan menempati kursi kami. Keretanya sangat dingin sekali karena terdapat pendingin udara (AC) dan saat itu masih pagi jadi tidak terlalu panas. Bangku di depan kami masih kosong sampai stasiun Kertosono. Sampai di Kertosono duduk sepasang suami istri di depan kami. Kami tetap asik mengobrol sesekali saya memotret pemandangan dari jendela kereta api. Perjalanan saat itu sangat lama karena kami menggunakan kereta kelas ekonomi yang harganya murah dan selalu mengalah apabila ada kereta kelas eksekutif yang ingin lewat. Tiba di stasiun Banyuwangi Baru pada pukul 20.45wib yang artinya kami bepergian dari Jogja sampai Banyuwangi membutuhkan waktu 12 jam lebih menggunakan kereta kelas ekonomi. Ditambah perjalanan dari Purwokerto ke Jogja sebelumnya membutuhkan waktu 3 jam jadi total perjalanan kami untuk sampai ke Banyuwangi kurang lebih 15 jam perjalanan darat menggunakan kereta api kelas ekonomi. Itupun baru sampai Banyuwangi, belum menyeberang ke Bali dan belum sampai ke hotel tempat kami menginap. Kami langsung keluar area stasiun Banyuwangi Baru ketika tiba disana. Tampak stasiun Banyuwangi Baru yang luas dan bagus arsitekturnya tetapi sepi karena stasiun ini merupakan stasiun di ujung timur pulau Jawa. Keluar area stasiun, saya melihat sebuah penginapan persis di depan area stasiun dan di pinggir jalan raya. Penginapan tersebut banyak diisi turis asing yang sedang berlibur di Banyuwangi atau ingin menyeberang ke Bali tetapi beristirahat dahulu di penginapan tersebut. Terlintas di pikiran saya untuk bermalam dulu di penginapan tersebut karena kami sudah terlalu lelah mengarungi perjalanan yang jauh. Tetapi kata pacar saya tanggung, sebentar lagi sampai Bali jadi percuma bermalam di Banyuwangi. Seperti buang-buang uang saja. Di dekat penginapan terdapat minimarket berinisial A yang sudah ada dimana-mana dan di depan minimarket tersebut terdapat beberapa warung nasi yang cukup menggoda kami untuk mampir tetapi kami teguh untuk segera ke pelabuhan ketapang untuk menyeberang ke Bali. Alhamdulillah kami segera melihat bus menuju Denpasar. Tampaknya bus kelas ekonomi. Tanpa pikir panjang saya segera menanyakan tarifnya dari Banyuwangi menuju Denpasar. Dia pun mematok harga 50 ribu rupiah. Saya pun menawar 30 ribu karena menurut info yang saya dapat dari teman-teman backpacker tarif bus dari Banyuwangi menuju Denpasar adalah 30 ribu dan paling mahal adalah 35 ribu. Setelah tawar menawar dengan awak bus, akhirnya disepakati harga 40 ribu tiap orang untuk jarak Banyuwangi ke Denpasar. Tak jauh dari tempat kami naik bus, kami sudah memasuki area pelabuhan dan saya pun sangat semangat karena ini pengalaman pertama saya naik kapal ferry. Banyak pedagang yang menjajakan dagangannya di dalam bus. Saya akhirnya tergoda untuk membelinya. Saya membeli 2 bungkus nasi untuk saya dan pacar saya. Pedagangnya bilang lauknya adalah ayam dan ikan laut. Saya pun curiga dengan harga yang begitu murah (5 ribu/bungkus) sudah mendapatkan nasi dengan lauk ayam dan ikan laut. Diluar nalar saya. Seperti dugaan saya, ternyata lauknya begitu sedikit. Seperti nasi kucing di angkringan. Tak apalah bagi saya karena saya dan pacar saya belum makan sama sekali dari pagi. Setelah makan tidak berapa lama bus kami masuk ke dalam kapal ferry dan para penumpang segera beranjak keluar bus. Kami pun bingung bukan kepalang karena kami tidak tahu mau kemana dan kami baru pertama kali naik kapal ferry. Akhirnya pacar saya memutuskan bertanya kepada salah satu penumpang. "Ke atas mba daripada di bus panas" sahut salah satu penumpang. Kami pun segera keluar bus untuk menghirup udara segar sekaligus melihat keadaan kapal ferry dari dekat. Setelah naik tangga menuju ke bagian atas kapal ferry, wow takjubnya saya karena sekeliling saya sudah laut walaupun saat itu hari sudah gelap. Kurang lebih 45 menit waktu tempuh perjalanan Ketapang ke Gilimanuk dan kamipun turun ke bagian bawah kapal untuk masuk kembali ke dalam bus. Saya tetap terjaga untuk mengawasi pacar saya jika terjadi apa-apa di dalam bus. Perjalanan dari Gilimanuk menuju Denpasar sungguh berliku dan terjal. Seperti perjalanan Purwokerto menuju Jakarta via jalur selatan Jawa. Untungnya kami tidak mual saat perjalanan itu. Tiba di terminal Mengwi, Badung tanggal 5 November 2013 pukul 3.00 wita. Saya pun bingung karena hari itu masih dini hari dan saya janjian dengan penjaga hotel kalau saya akan check in sekitar jam 6 pagi. Saya ditawari naik taksi sampai penginapan di Kuta dengan harga 125 ribu. Kalau pakai argo, harganya bisa 200 ribuan. Saya tidak mengiyakan tawarannya dan memutuskan untuk istirahat dulu di Mengwi sampai ada angkutan umum sampai terminal Ubung, Denpasar atau sampai ke Kuta. Kami pun menunggu angkutan umum di terminal Mengwi sambil tidur-tiduran. Pacar saya sampai tertidur pulas di kursi tempat kami duduk karena kelelahan. Saya tak lupa mengabadikan momen langka tersebut. Jam 5 pagi waktu indonesia bagian tengah dan saya mendengar bapak-bapak meneriakan kata Ubung. Ini berarti angkutan umum sudah mulai beroperasi disana. Saya segera mengecek dan benar angkutan umum warna biru di terminal Mengwi sudah mulai menarik penumpang. Itu tandanya kami segera bergegas merapikan barang bawaan kami untuk naik angkutan umum ke terminal Ubung. Angkutan umum tersebut kurang lebih diisi 15 orang. Saya pun segera bertanya kepada salah satu penumpang di sebelah saya berapa tarif dari Mengwi sampai Ubung. Tarifnya 10-15 ribu sampai Ubung. Saya mengangguk saja karena memang segitu tarif yang saya tahu dari pengalaman backpacker. Sesampainya di Ubung supir angkutan itu menanyakan kepada kami tujuannya kemana saja. Ada yang ke Sanur, Kerobokan, Nusa Dua dan lainnya. Dia langsung menawarkan bakal dianter sampai tempat tujuan penumpang dengan tarif 50 ribu tiap orang. Menurut saya agak mahal ya dengan harga segitu dari Mengwi sampai Kuta. Menurut bapak yang ada di depan saya harga tersebut agak mahal tetapi harganya tidak beda jauh jika kita mengecer. Sampai di Ubung kami harus menunggu angkutan umum lagi sampai daerah tujuan atau naik ojek. Tarif ojek dari Ubung sampai ke Kuta menurut bapak di depan saya 30-35 ribu sedangkan tarif angkutan umum dari Mengwi-Ubung 10 ribu. Selisihnya tidak beda jauh. Akhirnya kami memutuskan membayar 50 ribu sampai Kuta. Kami pun diantar sampai jalan legian di depan monumen bom bali. Turun dari angkutan umum kami segera ditawari penginapan atau sewa kendaraan oleh pemuda disana. Kami menolak karena kami sudah booking hotel di Mahendra Beach Inn. Sesampainya di hotel, kami langsung menaruh barang di lemari dan melihat-lihat kondisi kamar penginapan kami untuk 2 malam. Kamar yang bagus dengan harga yang cukup terjangkau bagi kalangan backpacker. Setelah melihat-lihat sebentar, tanpa basa basi kami langsung tergeletak di ranjang saking lelahnya.

Hari kedua dimulai ketika saya dan pacar saya terbangun dari tidur panjang setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Bangun tidur jam 3 sore saya langsung menyewa motor untuk pergi berjalan-jalan mengelilingi Bali. Harga sewa motor di Bali sama dengan di Jogja yaitu 50 ribu per hari. Tujuan pertama saya saat itu pergi ke pantai Kuta. Untuk apa kami menginap di Kuta tapi tidak pergi ke pantai Kuta. Lalu kami pergi ke pantai Kuta untuk sekedar melihat-lihat. Pantai yang bagus tapi sayang sudah banyak orang yang tahu jadi ramai dan mengundang banyak sampah. Setelah menyusuri pantai kuta kami bergegas menuju daerah Uluwatu untuk melihat maha karya Indonesia yang belum jadi, yaitu Garuda Wisnu Kencana (GWK). Mahakarya patung besar ini menjadi ikon pariwisata Bali. Berkunjung ke Bali tidak lengkap rasanya tidak mengabadikannya di tempat ini. Walaupun Bali identik dengan pantainya yang cantik tetapi mahakarya GWK tetap menjadi destinasi wisata favorit turis lokal dan asing. Cukup dengan membayar 40 ribu per orang Anda sudah bisa memasuki GWK Cultural Park. Mahakarya ini masih dalam bentuk terpisah-pisah dikarenakan pekerjaannya yang belum seratus persen. Terdapat Plaza Garuda yang terdapat patung kepala garuda, Plaza Brahmana yang terdapat patung Brahmana, salah satu dewa di agama Hindu. Pergi ke GWK tidak hanya bisa menikmati mahakarya Indonesia berupa patung tetapi bisa menikmati tarian khas Bali yaitu kecak di pelataran seni di samping loket masuk. Setiap hari (kalau tidak salah) pada pukul 18.00 wita kita akan disuguhkan tari tradisional Bali yang begitu eksotis. Kalau kamu capek berjalan-jalan di sekitar area GWK, pengelola menyediakan alat seperti skuter yang bisa disewa oleh pengunjung. Area GWK juga bisa disewa untuk kepentingan pribadi seperti acara pre wedding atau dinner di Plaza Brahmana. Puas menikmati GWK pada sore hari, kami melirik jam tangan masing-masing dan jarum jam menunjukan pukul 17.50 wita dan saatnya kami harus meninggalkan GWK dengan senyuman manis. Tujuan selanjutnya adalah menikmati tenggelamnya matahari di pinggir pantai Kuta yang begitu cantik. Baru saja kami sampai di jalan by pass ngurah rai, jam menunjukan pukul 18.10 wita dan artinya saya memutuskan batal melihat sunset. Sebagai gantinya kami mampir di toko oleh-oleh Joger yang begitu terkenal di Bali. Toko ini kalau tidak salah terletak di jalan tuban. Kami sengaja mampir untuk melihat-lihat barang yang dijual Joger. Biasanya barang yang dijual disana unik-unik jadi banyak pengunjung yang pergi ke Bali selalu mampir disini untuk membeli buah tangan. Setelah puas berbelanja di Joger, kami segera kembali ke hotel untuk beribadah dan beristirahat. Sampai di hotel jam 19.30 wita kami langsung beribadah dan beristirahat sejenak melepas lelah. Jam 8an malam, saya mengajak pacar saya untuk menikmati nightlife di Bali. Kami memutuskan pergi ke kafe-kafe yang dekat dengan hotel. Akhirnya diputuskan pergi ke De'Bali Cafe. Kafe yang unik, murah menurut saya dan dekat dengan tempat saya menginap. Saya memesan kopi bali dan pacar saya memesan milkshake chocolate. Cita rasa kopi Bali masih kalah jauh dengan kopi Lampung. Walaupun saya bukan penikmat kopi tetapi saya bisa merasakan kenikmatan dari secangkir kopi tiap daerah. Setelah berbincang-bincang sambil menikmati hidangan masing-masing, kami kembali ke hotel untuk beristirahat karena esok kami harus bepergian ke tempat wisata lainnya di Bali.

Hari ketiga kami bangun agak pagi yakni jam 7 pagi. Saat itu sinar matahari di Kuta sudah sangat terik walaupun masih pagi. Saya berbincang-bincang dengan pacar saya mengenai tujuan kami hari ini. Kami memutuskan untuk pergi ke pasar sukawati di kabupaten Gianyar. Pasar ini sangat terkenal di telinga para pelancong yang ke Bali. Selain sebagai pasar, sukawati juga sebagai sentra oleh-oleh tradisional selain Joger dan Krisna. Tersedia berbagai macam oleh-oleh khas Bali seperti baju bercorak Bali, sarung bali, pernak-pernik, sampai makanan khas Bali seperti pie susu dan arak bali ada disini. Harganya pun tergolong murah. Saya mengecek peta di ponsel pintar untuk mengetahui dimana letaknya pasar sukawati. Saya mengamati sebentar lalu bergegas berangkat. Saya sempat lupa arah jalannya dan bertanya kepada seseorang di pinggir jalan. Setelah bertanya dan mendengar penjelasan yang cukup jelas saya melanjutkan perjalanan dan ternyata pasar sukawati sudah dekat dari tempat dimana saya bertanya tadi. Sekilas pasar sukawati sama dengan pasar pada umumnya. Hal yang membedakan adalah adanya ATM berbagai macam bank. Ini sangat memudahkan para pengunjung yang tidak membawa uang lebih untuk berbelanja. Setelah puas berbelanja oleh-oleh khas Bali kami pun berbincang kemana tujuan kami selanjutnya. Akhirnya diputuskan untuk mengunjungi pura agung yang berada di dataran tinggi Bali yaitu pura ulun danu di daerah Bedugul, kabupaten Tabanan. Saya langsung menuju kesana dengan kecepatan penuh karena saya pernah lihat peta menuju ke kawasan Bedugul itu jaraknya sangat jauh dari Kuta, apalagi jaraknya dari Sukawati, lebih jauh mungkin. Sampai di dekat terminal Mengwi saya menanyakan arah ke Bedugul kepada seseorang di pinggir jalan. "Ikutin arah ke Singaraja aja mas" kata seseorang yang saya tidak kenal itu. Saya percaya sama orang itu dan saya lanjutkan perjalanan ke arah Singaraja menggunakan sepeda motor yang saya sewa. Hampir setengah jalan tampaknya sudah kami lewati tetapi pura tersebut belum kelihatan batang hidungnya. Saya pun merasa lelah karena perjalanan yang jauh ditambah cuaca di Bali begitu panas sehingga membuat saya dehidrasi. Saya juga merasakan kalau pacar saya pun letih. Terlihat dia sering berpindah-pindah posisi duduk di motor. Akhirnya saya beristirahat sejenak untuk membeli makan tetapi saya salah berhenti. Tempat makan yang saya kunjungi menyediakan menu babi. Kami pun hanya memesan sebotol air mineral untuk menghilangkan rasa haus. Lalu perjalanan dilanjutkan kembali. Kurang lebih 20 menit dari tempat kami beristirahat untuk membeli minum, kami sampai di tempat yang di nanti-nanti yaitu pura ulun danu, danau beratan, Bedugul. Pura yang sangat asri ini memiliki hawa sejuk. Harga tiket masuknya cukup dengan uang 10 ribu rupiah saja dan biaya parkir motor hanya 2 ribu rupiah. Harga yang murah untuk tempat wisata yang eksotis. Tak heran pura ini menjadi daya tarik wisata di Bali. Keindahannya, keasriannya dan alamnya sangat mendukung daya tarik wisata pura ini. Ketika kami mengunjungi pura ini tampaknya sedang ada upacara adat karena banyak orang berkumpul di pelataran pintu masuk pura dengan pakaian sembahyang agama hindu khas Bali. Saya pun menghargai orang yang ingin bersembahyang tersebut dengan tidak banyak bicara. Kami pun segera menikmati keindahan alam danau beratan sembari melihat-lihat pura tersebut. Tak lupa kami pun mengabadikan momen di pura ulun danu dengan berfoto. Tak hanya berfoto, kami pun berkeliling area pura. Disini kamu juga bisa mengabadikan diri dengan membayar jasa foto yang ditawarkan penduduk setempat. Hanya dengan membayar 15 ribu rupiah, foto kamu sudah langsung dicetak dan bisa langsung dipajang. Puas mengunjungi pura ulun danu, kami langsung pulang menuju hotel. Pacar saya sudah terlihat lemas sekali. Saya pun mengendarai motor dengan cepat dan hati-hati agar cepat sampai di hotel. Sebelum sampai di hotel, saya mampir di warung makan jawa yang menyajikan makanan khas jawa yang identik dengan halal. Warung tersebut berada di jalan poppies 1 dekat dengan tempat kami menginap. Sesampainya di hotel, kami langsung menyantap makanan yang kami beli dengan lahap lalu beribadah siang dan diakhiri dengan istirahat siang yang nyenyak sekali. Terbangun dari istirahat, saya langsung mandi dan siap-siap berkeliling Kuta dengan pacar saya sambil menikmati nightlife Bali. Malam ini kami tidur agak cepat karena esok pagi kami harus pergi meninggalkan Bali dengan beragam kenangan.

Tanggal 7 November 2013 atau hari keempat kami di Bali. Kami bangun pagi itu pagi sekali, saya bangun pukul 6 pagi sedangkan pacar saya pukul 5 pagi sudah bangun. Saya segera mandi untuk segera menyiapkan segala keperluan untuk kembali ke Purwokerto. Setelah kami mandi dan menyiapkan segala keperluan kami untuk pulang, kami segera check out dari hotel. Kami meninggalkan hotel pada pukul 08.00 wita dan berjalan menuju pasar Kuta. Disana lah terdapat angkutan umum menuju terminal tegal dan dilanjutkan ke terminal ubung. Sampai di pasar kuta, kami membeli nasi kuning dahulu untuk sarapan. Seporsi nasi kuning dihargai 10 ribu rupiah. Harga yang cukup sesuai dengan keadaan tempat dan lauknya yang memakai rendang atau ayam goreng. Setelah makan, kami berjalan kembali menuju pasar Kuta. Sesampainya di pasar, angkutan umum yang kami tuju belum datang jua. Kami menunggu di mini market berlambang M sambil berbincang-bincang. Tak lama menunggu, angkutan berwarna biru sejenis elf pun datang. Kami segera masuk ke dalam angkutan itu. Tarif angkutan umum dari pasar Kuta hingga terminal tegal adalah 15 ribu untuk 2 orang. Turun di terminal tegal, kami menyambung angkutan umum lagi menuju terminal ubung dengan tarif 10 ribu per orang. Seharusnya tarif angkutan dari tegal ke ubung hanya 5 ribu akan tetapi supir angkutan yang melihat kebanyakan penumpang bukan penduduk asli Bali jadi dia sengaja menaikan harga seenaknya. Sampai di terminal ubung, kami langsung dikerubungi oleh orang-orang yang menawarkan busnya. Saya segera bilang ingin pergi ke Gilimanuk dan seseorang membantu membawakan barang-barang saya dan pacar saya ke dalam bus yang sudah lama parkir. Kami pun naik ke dalam bus tersebut. Saya langsung bertanya tarif kepada bapak yang duduk di belakang saya dan bapak itu bilang tarif bus terminal ubung ke Gilimanuk 30 ribu rupiah. Saya pun mengiyakan karena harga yang wajar mengingat jarak yang ditempuh bus itu sangat jauh. Tidak berapa lama kami menunggu di dalam bus, akhirnya bus tersebut jalan. Menempuh jarak yang jauh dan waktu yang cukup lama yaitu 3 jam untuk sampai di Gilimanuk. Sampai di Gilimanuk jam 1 siang kami segera menuju pelabuhannya untuk membeli tiket kapal ferry. Harga tiket ferry yaitu 6500 rupiah per orang untuk sekali jalan. Harga yang murah menurut saya. Apalagi kapal ferry yang kami naiki sepertinya kapal ferry model baru karena masih ada aksara bahasa Jepang. Mungkin kapal impor dari Jepang dan belum diubah sama sekali. Cukup dengan 45 menit waktu menyeberang, kami sudah sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Sampai di Banyuwangi pukul 14.00 wib. Setelah ibadah siang di masjid di depan pelabuhan Ketapang, kami berjalan-jalan mencari warung makan untuk mengisi perut kami yang berdendang mengalun irama kelaparan. Sampailah kami di warung jawa timuran. Area pelabuhan Ketapang cukup lengkap dengan adanya mini market, warung makan dan beberapa penginapan bagi pelancong yang ingin bermalam di Banyuwangi khususnya di pelabuhan Ketapang. Berbanding terbalik dengan pelabuhan Gilimanuk yang hanya ada terminal kecil bagi bus kecil dan beberapa pedagang asongan. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah Bali untuk meningkatkan fasilitas penunjang transportasi penyeberangan pulau yang begitu ramai. Setelah kami makan siang di warung nasi dekat pelabuhan Ketapang, kami ke mini market untuk membeli perbekalan untuk perjalanan kami selanjutnya, yakni dari Banyuwangi menuju Surabaya dan dilanjutkan ke Purwokerto. Kami berada di mini market tersebut sampai menjelang maghrib. Saat maghrib sampai isya kami berada di masjid samping mini market tersebut. Setelah isya, kami pergi ke stasiun untuk menunggu kereta kami datang. Padahal jadwal kereta kami jam 10 malam tetapi kami sudah di stasiun Banyuwangi Baru jam setengah delapan malam. Kami naik kereta Mutiara Timur Malam relasi Banyuwangi Baru - Surabaya Gubeng dengan harga 80 ribu untuk kelas bisnis. Bnayak sekali penumpang kereta Mutiara Timur Malam yang menunggu di stasiun. Beberapa ada juga turis asing yang menunggu kereta tersebut sambil membawa papan seluncur. Sepertinya mereka habis dari pantai G-Land yang terkenal itu. Jam 9 malam kereta yang kami tumpangi pun datang. Saya pun ragu dengan kereta tersebut sebab kereta kami jadwalnya jam 10 malam. Saya segera bertanya kepada petugas pemeriksa tiket apakah benar itu kereta Mutiara Timur Malam. Ternyata benar itu adalah kereta yang kami tumpangi. Kami segera memasuki peron stasiun dan memasuki kereta itu. Kereta yang bagus dan dingin sekali padahal kelas bisnis. Tepat jam 10 malam kereta itu pun berangkat. Sungguh tepat waktu jadwal kereta sekarang. Berbeda sekali dengan beberapa tahun ke belakang yang jadwalnya suka telat apalagi kelas ekonomi yang selalu mengalah dengan kereta kelas bisnis dan eksekutif jadi sering telat jadwalnya. Kami pun bisa beristirahat dengan nyaman di kereta tersebut.

Sampai di stasiun Surabaya Gubeng tanggal 8 November 2013 jam 4.20 pagi dan kami segera menuju ke toilet untuk mencuci muka dan buang air kecil. Keluar area stasiun, kami segera menuju mushola di samping warung pojok stasiun Gubeng untuk beribadah pagi. Setelah beribadah pagi, kami duduk-duduk sambil berbincang mengenai momen indah di Bali. Cukup lama kami berbincang-bincang tanpa terasa sudah jam 6 pagi di Surabaya. Kami segera memesan makanan untuk disantap sebagai sarapan. Walaupun kondisi pacar saya yang drop karena kecapekan akibat perjalanan jauh dan cuaca di Bali yang begitu panas tetapi dia tidak mau menunjukan kalau dia sedag kurang fit. Saya kagum sama dia. Makin sayang jadinya. Setelah bersantap pagi dengan seporsi soto daging khas Surabaya kami bergegas menuju stasiun untuk menunggu kedatangan kereta. Sambil menunggu saya membeli koran agar tidak bosan ketika menunggu cukup lama di stasiun dan juga agar wawasan saya bertambah dengan membaca. Saya membaca harian Surya dengan harga cuma seribu rupiah saja. Harga yang murah untuk sekelas kota besar seperti Surabaya. Setelah membaca koran dengan asik tiba-tiba pacar saya mengingatkan saya bahwa sudah jam setengah sembilan pagi. Jadwal kereta kami yaitu 9.20 pagi. Kami naik kereta Logawa relasi Jember - Purwokerto tetapi kami naik dari Surabaya Gubeng menuju Purwokerto dengan tarif 50 ribu rupiah. Kereta Logawa yang kami naiki tidak cukup nyaman karena banyaknya penumpang ditambah pintu tiap gerbong dibuka lebar tanpa ditutup kembali dan itu mengakibatkan pendingin udara di dalam kereta tidak berfungsi secara baik. Sampai di Purwokerto jam setengah tujuh malam padahal waktu yang tertera di jadwal kereta kami adalah jam 18.45 wib. Akhirnya kami sampai di Purwokerto. Rasa syukur terucap terus dari mulut kami karena kami pergi dan pulang dengan selamat tanpa cacat sedikit pun.

Seperti itulah kisah perjalanan iseng saya bersama pacar saya ke pulau dewata. Baca terus kisah petualangan saya di tempat-tempat eksotis lainnya. Jangan sampai terlewat !


Silakan login atau mendaftar untuk mengirim komentar

wisatajogja
wisatajogja
wisatajogja Jr.
pd. 20 Okt. 2015, 23.06

panjang bener gan ceritanya. tapi seruuuuu. jadi kangen Bali :malu:

Suka 0
freedomseeker
freedomseeker
freedomseeker Newbie
pd. 20 Okt. 2015, 8.36

Wah perjalanan ke Bali dr purwokerto memang panjang dan melelahkan, kyk cerita agan. Harus bolak-balik ganti bis :(. Jadi baru kerasa betapa jauhnya Bali.. Btw, katanya skrng dah ada bus langsung denpasar-bali ya, namanya Wisata Komodo. Masih beroperasi nggak ya? Ada yg pernah naik baru2 ini? Brp tarifnya? Thanks buat yg mau ksh info ato sharing pengalamannya... Pengen ke Bali sendiri nih, kira2 aman ga ya? :p

Suka 0
key_qi
key_qi
key_qi Newbie
pd. 4 Des. 2013, 13.25

Kucek kucek mata setelah baca ini,,, niat bnget ya nulis panjang lebar.he..tp keren kog critanya

Suka 0
andyhardyan
andyhardyan
andyhardyan Pro.
pd. 13 Nov. 2013, 8.44

:| Biasa 150 uda sarapan

Suka 0
rendy26
rendy26
rendy26 Jr.
pd. 12 Nov. 2013, 23.03

Makasi sudah mampir :)

Tarif mahendra kamar standard 150ribu gan. Diluar sarapan

Suka 0
andyhardyan
andyhardyan
andyhardyan Pro.
pd. 12 Nov. 2013, 12.23

mantap gan....
mahendra sekarang tarifnya berapa??

Suka 0
byteeater
byteeater
byteeater Hero
pd. 12 Nov. 2013, 10.10

kereeen, jadi kangen bali lagii >,< kapan bisa stay disana lagi :D

Suka 0
ojieeeee
ojieeeee
ojieeeee Newbie
pd. 12 Nov. 2013, 7.17

keren gan cerita backpacker'nya.. kemarin saya dan pacar saya juga ke bali tgl 12 - 21 september. tp ga se-extreme cerita agan :jempol:

Suka 0

© backpackerindonesia.com